Bicarasurabaya.com – Jembatan Suramadu yang menghubungkan Kota Surabaya dan Kabupaten Bangkalan, Madura, dilakukan penyekatan atau screening sejak Minggu (6/6/2021) lalu.
Langkah ini dilakukan untuk menekan laju penularan Covid-19, pasca kasus di Kabupaten Bangkalan meningkat.
Namun demikian, screening yang dilakukan kepada setiap pengendara yang akan masuk ke Surabaya melintasi Jembatan Suramadu ini, rupanya membawa dampak besar bagi penduduk Madura yang bekerja di Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satunya seperti yang dialami Camat Sawahan, Mohammad Yunus. Pria pemeran New Man ikon protokol kesehatan Kota Surabaya ini mengaku bukan karena rasa takut akan hasil rapid antigen. Namun, dia lebih mengkhawatirkan terjadi perubahan pada salah satu bentuk dari wajahnya.
“Kalau riwa-riwi (bolak-balik) saja gak masalah. Diswab gak masalah. Tapi kalau di antigen tiap hari. Isok- isok irungku mekrok (bisa-bisa hidungku membesar),” kata Yunus kepada awak media, Rabu (9/6/2021).
Maka dari itu, saat dilakukan penyekatan di kaki Jembatan Suramadu sisi Surabaya, Yunus yang merupakan penduduk Kecamatan Kamal ini lebih memilih mencari penginapan atau rumah kos untuk tinggal sementara di Kota Pahlawan.
“Untuk keselamatan saya tinggal di sini. Sementara cari kos sampai kondisi landai. Mungkin tiap seminggu sekali pulang,” ungkap Yunus.
Meski memilih tinggal di Surabaya, Yunus mengaku tetap memikirkan keluarganya. Termasuk pula melengkapi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Bahkan, dia juga meminta istri, anak hingga orang tuanya agar tidak keluar rumah.
“Keluarga tidak boleh keluar-keluar. Saya sudah siapkan kebutuhan bahan pokok untuk persediaan makanan beberapa hari. Tiap hari juga masih kontak lewat telepon, tanya kesehatan termasuk orang tua dan keluarga yang tinggal di Bangkalan,” ungkap Yunus.
Menurut Yunus, penyekatan dan screening kepada pengendara yang akan masuk ke Surabaya melintasi Jembatan Suramadu ini dinilai cukup bagus. Pasalnya, langkah ini dapat menekan laju penyebaran Covid-19 di Surabaya.
“Kalau gak bisa dikendalikan mulai dari awal lagi. Harapannya masyarakat bisa menerima. Harus ikhtiar pemerintah dalam melindungi masyarakat,” pungkasnya. (BS02)









