Bicarasurabaya.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mencopot Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Sidoarjo, Rafli Ridho, setelah insiden keracunan massal yang diduga berkaitan dengan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pencopotan dilakukan setelah BGN menelusuri kasus yang berdampak pada ratusan penerima MBG. Selain mencopot kepala dapur, BGN sebelumnya menjatuhkan sanksi suspend berat selama 30 hari kepada SPPG Kalitengah dan menghentikan sementara operasional dapur.
Wakil Kepala BGN Trenggono mengatakan Rafli dicopot karena dinilai lalai dan tidak menjalankan standar operasional prosedur (SOP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dia sudah tidak bisa lagi menangani dapur karena kelalaian ataupun ketidakpatuhan terhadap SOP. Itu tanggung jawab kepala dapur,” kata Trenggono di Sidoarjo, Jumat (4/9/2026).
Kepala BGN Sudaryono sebelumnya mengungkap adanya persoalan dalam distribusi makanan MBG dari SPPG Kalitengah.
Menurut dia, makanan telah selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB. Makanan seharusnya dikonsumsi pada pagi hari, tetapi dalam praktiknya baru dikirim ke sekolah sekitar pukul 11.30-11.40 WIB dan dikonsumsi setelah pukul 12.00 WIB.
Keterlambatan tersebut menjadi salah satu fokus penelusuran BGN terkait insiden keracunan.
Sudaryono bahkan menyebut temuan tersebut sebagai kelalaian yang disengaja karena distribusi makanan tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
“Ini kelalaian yang disengaja. Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja,” tegas Sudaryono.
Trenggono mengatakan BGN masih memberikan sanksi kepada SPPG dan kepala dapur. Sementara itu, pemilik dapur belum dikenai sanksi.
Jika dalam evaluasi ditemukan pelanggaran SOP kembali dilakukan secara sengaja, BGN membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi lebih berat hingga penghentian operasional secara permanen.
Kasus ini bermula setelah ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Selasa (1/9/2026).
Sejumlah pelajar dari sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.
Para korban mengalami gejala seperti pusing, lemas, dan mual. Mereka kemudian mendapat penanganan di sejumlah rumah sakit di Sidoarjo.
Hingga Jumat (4/9/2026) pukul 08.00 WIB, tercatat 748 orang terdampak dalam insiden tersebut. Sebanyak 20 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 728 lainnya telah diperbolehkan pulang.
Sebelum dicopot, Rafli sempat menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut.
“Mohon maaf ya, saya menyesal,” kata Rafli kepada wartawan, Rabu (3/9/2026).
BGN masih melakukan penelusuran untuk memastikan rangkaian kejadian dan faktor yang menyebabkan para penerima MBG mengalami gangguan kesehatan. (BS/za)









