Bicarasurabaya.com – Rangkaian program pengabdian masyarakat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur di Pondok Pesantren Nurul Iman, Kabupaten Probolinggo, memasuki tahap penyelesaian.
Setelah sebelumnya membangun fasilitas budidaya ikan dan merakit sistem irigasi tetes, mahasiswa kini melanjutkan program ketiga melalui budidaya tanaman hortikultura berupa cabai dan terong. Sebanyak 80 tanaman disiapkan dalam polybag dan dihubungkan langsung dengan sistem penyiraman yang telah dibangun sebelumnya.
Ketua KKN Kelompok 13, Nizam, mengatakan program tersebut dirancang sejak awal sebagai rangkaian yang saling terintegrasi. Sistem irigasi tetes tidak hanya menjadi demonstrasi teknologi tepat guna, tetapi langsung dimanfaatkan untuk menunjang produksi pangan di lingkungan pesantren.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Program budidaya cabai dan terong ini dirancang agar saling terhubung dengan instalasi irigasi tetes yang sudah kami buat. Sebanyak 80 polybag kami siapkan sebagai bagian dari komitmen kami untuk memperkuat ketahanan pangan mandiri di lingkungan pondok pesantren sekaligus membantu efisiensi anggaran belanja harian dapur santri,” kata Nizam.
Sistem penyiraman tersebut menggunakan jaringan pipa berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) yang disambungkan menuju setiap tanaman. Material HDPE dipilih karena memiliki karakter kuat, tahan terhadap perubahan cuaca, serta dapat digunakan untuk menyalurkan air secara konsisten.
Melalui sistem itu, penyiraman 80 tanaman cabai dan terong dapat dilakukan secara lebih praktis. Air dialirkan secara perlahan dan langsung menuju area perakaran tanaman sehingga mahasiswa maupun pengelola pesantren tidak perlu melakukan penyiraman satu per satu secara manual.
Selain menghemat tenaga, sistem irigasi tetes memungkinkan penggunaan air menjadi lebih terukur. Kelembapan media tanam dapat dijaga tanpa harus menggunakan air dalam jumlah berlebihan.
Nizam menjelaskan, pemilihan cabai dan terong juga mempertimbangkan kebutuhan konsumsi harian di lingkungan pesantren. Kedua komoditas tersebut relatif sering digunakan sebagai bahan makanan sehingga budidaya secara mandiri berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pembelian dari pasar.
“Harapannya, ketika tanaman ini sudah produktif, hasil panennya dapat digunakan untuk kebutuhan dapur pesantren. Jadi manfaat program tidak berhenti pada proses penanaman, tetapi bisa dirasakan langsung dalam kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Menariknya, program budidaya 80 tanaman hortikultura itu dilakukan dengan anggaran relatif terjangkau. Mahasiswa mengalokasikan biaya sekitar Rp200 ribu untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN UPN “Veteran” Jawa Timur, Mohammad Syarrafah, M.I.Kom., mengatakan rangkaian program Kelompok 13 sengaja diarahkan agar tidak berjalan secara parsial, melainkan membentuk satu ekosistem sederhana yang dapat mendukung ketahanan pangan pesantren.
“Program yang dibangun mahasiswa ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Setelah ada budidaya ikan, mahasiswa mengembangkan irigasi tetes dan kemudian memanfaatkannya untuk budidaya tanaman hortikultura. Jadi, setiap program tidak berhenti sebagai kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi menjadi satu rangkaian yang dapat terus dimanfaatkan oleh pesantren,” kata Syarrafah.
Menurut dia, pendekatan tersebut penting agar pelaksanaan KKN tidak sekadar menghasilkan fasilitas fisik, tetapi juga meninggalkan sistem yang dapat dikelola dan dikembangkan setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.
“Yang kami dorong adalah keberlanjutan. Teknologinya harus sederhana, biayanya terjangkau, mudah dirawat, dan yang paling penting bisa dilanjutkan oleh pengelola maupun santri. Dengan cara seperti itu, program KKN memiliki peluang lebih besar untuk memberikan dampak dalam jangka panjang,” ujarnya.
Syarrafah menambahkan, pengembangan komoditas pangan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari merupakan salah satu bentuk sederhana dalam membangun kemandirian pangan di lingkungan pesantren.
“Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari program dalam skala besar. Memanfaatkan lahan yang tersedia, menanam komoditas yang dibutuhkan sehari-hari, kemudian didukung teknologi penyiraman yang hemat air sudah menjadi langkah konkret menuju kemandirian. Dalam konteks pesantren, program seperti ini juga bisa menjadi sarana pembelajaran bagi santri,” katanya.
Rangkaian pengabdian Kelompok 13 dimulai dari pembangunan fasilitas budidaya ikan sebagai salah satu sumber pangan, dilanjutkan dengan instalasi irigasi tetes untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, kemudian diintegrasikan dengan penanaman cabai dan terong.
Selain mendukung kebutuhan pangan, keberadaan kebun produktif tersebut diharapkan dapat membantu pesantren menekan sebagian pengeluaran untuk kebutuhan dapur. Cabai dan terong yang nantinya berhasil dipanen dapat dimanfaatkan secara langsung untuk konsumsi para santri.
Program ini sekaligus memperkenalkan kepada santri mengenai praktik pertanian sederhana berbasis teknologi tepat guna. Mulai dari pengelolaan media tanam, penggunaan air secara efisien hingga perawatan tanaman dapat menjadi pengalaman praktis yang nantinya dapat dikembangkan secara mandiri.
Integrasi antara budidaya ikan, teknologi irigasi hemat air dan tanaman hortikultura tersebut diharapkan menjadi modal awal bagi Pondok Pesantren Nurul Iman untuk mengembangkan ekosistem ketahanan pangan secara bertahap.
Melalui pendekatan yang sederhana dan berbiaya relatif terjangkau, mahasiswa KKN UPN “Veteran” Jawa Timur berharap program tersebut tidak berhenti setelah kegiatan KKN berakhir, tetapi dapat terus dirawat, diperluas, dan menjadi bagian dari aktivitas produktif pesantren.
“Harapan akhirnya bukan sekadar melihat tanaman ini tumbuh selama mahasiswa berada di lokasi. Kami ingin ada pengetahuan dan sistem yang ditinggalkan, sehingga pesantren dapat meneruskan bahkan mengembangkannya sesuai kebutuhan di masa mendatang,” katanya.
Program ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian KKN di Pondok Pesantren Nurul Iman. Pasalnya, setelah program itu, tidak lama kemudian digelar penutupan oleh pihak pesantren bersama pihak UPN Veteran Jawa Timur. (Penulis: Mohammad Syarrafah dan Tim KKN PP Nurul Iman Putra)








