Bicarasurabaya.com – Surabaya menargetkan realisasi investasi mencapai Rp 43 triliun pada 2026. Untuk mengejar target itu, Pemkot Surabaya mengandalkan layanan perizinan digital berbasis kecerdasan buatan (AI) serta Klinik Investasi.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan sistem digital tersebut memungkinkan proses perizinan dipantau secara real-time. Pemohon juga dapat mengecek perkembangan berkas melalui ponsel.
“Sistem kami memungkinkan pemantauan real-time. Berapa izin yang masuk dan selesai, semua terpantau. Kami juga menyediakan Klinik Investasi yang mendampingi investor,” kata Eri di ruang kerjanya, Kamis (20/8/2026).
Klinik Investasi memberikan pendampingan kepada pelaku usaha, antara lain terkait perhitungan break even point (BEP) hingga estimasi waktu pembangunan. Menurut Eri, kemudahan dan transparansi layanan menjadi kunci membangun kepercayaan investor.
“Ketika ada kepastian dan tidak ada biaya di luar ketentuan, kepercayaan investor akan terbangun. Hasilnya, investasi bergerak dan perekonomian Surabaya ikut tumbuh,” ujarnya.
Target Rp 43 triliun tersebut meningkat dibanding realisasi investasi tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 35-36 triliun.
Meski demikian, Eri menegaskan penghargaan Anugerah Layanan Investasi (ALI) 2026 bukan tujuan utama inovasi tersebut. Surabaya menjadi salah satu daerah yang kini menjalani verifikasi lapangan dan wawancara dalam rangka penilaian ALI 2026.
“Penghargaan itu bonus. Sasaran utama kami adalah investasi bergerak, kemiskinan dan stunting berkurang, serta masyarakat sejahtera,” tegasnya.
Direktur Kerja Sama Pelaksanaan Berusaha Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Hasyim Daeng Barang mengatakan tim datang untuk melakukan uji petik atas pemaparan Pemkot Surabaya.
Penilaian mencakup kinerja DPMPTSP dan Percepatan Pelaksanaan Berusaha (PPB). Tim juga mewawancarai dinas teknis serta pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai perhotelan, pusat perbelanjaan, rumah sakit hingga UMKM.
“Kami hadir untuk mengecek apakah fasilitas dan pelayanan yang dipaparkan sudah sesuai dengan data di lapangan,” kata Hasyim.
Hasil penilaian tersebut nantinya menjadi bagian dari proses ALI 2026. Namun bagi Surabaya, indikator akhirnya tetap pada seberapa jauh kemudahan berusaha mampu mendorong investasi dan berdampak pada perekonomian warga. (BS/za)





