Bicarasurabaya.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memusatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada dua titik utama, yakni Pundak Lembu di kawasan B29 dan Watangan di sisi barat. Upaya pemadaman diperkuat dengan tiga helikopter water bombing mengingat medan yang sulit dijangkau personel darat.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan kondisi geografis menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman karena tidak semua titik api dapat diakses kendaraan maupun petugas.
“Medannya sangat menantang. Ada lokasi yang tidak bisa dijangkau personel, sehingga operasi diperkusaat meninjau lokasi kebakaran,” kata Emil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Emil, area terdampak kebakaran mencapai sekitar 500 hektare. Namun, tidak seluruh kawasan tersebut terbakar. Dalam sehari terakhir, luasan kebakaran bertambah sekitar 250 hektare sehingga upaya pengendalian difokuskan agar api tidak terus meluas.
Selain menyasar kawasan B29 dan Watangan, operasi water bombing juga dilakukan di kawasan Penanjakan. Helikopter mengambil air dari Ranu Pani dan Ranu Regulo untuk mempercepat siklus penyiraman.
Emil menjelaskan, angin kencang menjadi faktor yang mempercepat perambatan api. Meski terdapat jalur kaldera Tengger selebar sekitar 18 meter yang berfungsi sebagai sekat alami, kobaran api berpotensi melompatinya sehingga petugas menyiapkan titik pertahanan tambahan di jalur menuju Penanjakan.
Untuk menekan penyebaran api, tim gabungan mengombinasikan pemadaman dan langkah pencegahan. Sebanyak tujuh unit mobil pemadam kebakaran, sekitar 200 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan Balai Besar TNBTS, serta tiga helikopter dikerahkan dalam operasi tersebut.
Emil menegaskan titik yang telah padam tetap dijaga guna mengantisipasi munculnya kembali bara api akibat embusan angin.
Di sisi lain, Pemprov Jatim bersama Balai Besar TNBTS juga menutup sementara kawasan wisata Gunung Bromo agar proses pemadaman lebih optimal sekaligus menjamin keselamatan pengunjung.
Meski belum ada evakuasi warga, pemerintah telah memetakan wilayah rawan, menyiapkan jalur evakuasi, dan melakukan pemantauan selama 24 jam. “Belum sampai tahap evakuasi, tetapi seluruh skenario sudah disiapkan jika kondisi memburuk,” ujar Emil.
Selain itu, BPBD Jawa Timur mengerahkan drone sprayer berkapasitas 70 liter untuk melakukan pendinginan di titik-titik yang telah padam namun masih mengeluarkan asap.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan penutupan total kawasan TNBTS dilakukan agar seluruh sumber daya difokuskan pada pemadaman dan mencegah kebakaran meluas.
Menurutnya, tiga helikopter telah melakukan sekitar 30 kali water bombing dalam sehari. Namun, berdasarkan prakiraan BMKG, operasi modifikasi cuaca belum dapat dilakukan dalam sekitar 10 hari ke depan sehingga pemadaman masih mengandalkan operasi udara dan personel darat.
Dengan kondisi cuaca yang masih kering dan angin kencang, petugas terus berupaya menahan laju api agar tidak merembet ke kawasan lain di TNBTS. (BS/za)











