Bicarasurabaya.com – UPN “Veteran” Jawa Timur turut berpartisipasi dalam Festival Riset dan Inovasi yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya bersama Pemerintah Kota Surabaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya. Kegiatan yang berlangsung di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar tersebut diikuti lebih dari 70 perguruan tinggi, sekolah, dan komunitas lingkungan yang menampilkan berbagai hasil riset dan inovasi kepada masyarakat.
Festival Riset dan Inovasi menjadi agenda utama peringatan HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove Surabaya sekaligus menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, pelajar, dan komunitas dalam memperkuat budaya riset, inovasi, serta edukasi lingkungan. Pada kesempatan tersebut, BRIDA Kota Surabaya juga meluncurkan enam inovasi berbasis riset, yaitu Mangrove Throne, teknologi energi baru terbarukan berupa Pirolisis dan Terangin, VR World Mangrove, Brida Bright, serta Brida Step.
UPN “Veteran” Jawa Timur diwakili oleh Prof. Dr. Ir. Dedin Finatsiyatull Rosida, M.Kes. selaku Kepala LPPM, Bayu Setiawan, S.Sn., M.Sn., dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual, dan Ririn Puspita Tutiasri, S.I.Kom., M.Med.Kom., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi. Ketiga dosen tersebut memamerkan hasil riset mengenai pengembangan purwarupa maskot “Kuntul” sebagai anchor Integrated Marketing Communication (IMC) Kebun Raya Mangrove Kota Surabaya, yang selama tiga tahun terakhir dikembangkan melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Poster yang dipamerkan menjelaskan bahwa penelitian diawali dari hasil observasi yang menunjukkan media komunikasi Kebun Raya Mangrove Surabaya masih berjalan secara terpisah dan belum memiliki konsep identitas yang mampu membangun pengalaman serta memori pengunjung. Berdasarkan kondisi tersebut, tim mengembangkan konsep maskot “Kuntul” sebagai identitas visual yang dapat mengintegrasikan berbagai media komunikasi, baik digital maupun konvensional.
Dalam poster tersebut dijelaskan bahwa karakter Kuntul dirancang sebagai sosok yang periang, lucu, dan pantang menyerah, merepresentasikan semangat masyarakat pesisir Surabaya. Pengembangan desain dilakukan menggunakan metode Double Diamond Process, mulai dari tahap riset, penetapan konsep, pengembangan prototipe berbantuan kecerdasan buatan (AI), hingga implementasi pada berbagai media komunikasi.
Bayu Setiawan menjelaskan bahwa maskot bukan hanya berfungsi sebagai elemen visual, tetapi juga menjadi bagian dari strategi komunikasi destinasi.
“Maskot Kuntul kami rancang sebagai identitas visual yang mampu membangun pengalaman emosional pengunjung. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat citra Kebun Raya Mangrove Surabaya sekaligus menjadi media edukasi yang dekat dengan anak-anak dan keluarga,” jelasnya.

Ririn Puspita Tutiasri menambahkan bahwa pengembangan maskot merupakan bagian dari strategi branding yang telah dilakukan secara berkelanjutan sejak tiga tahun terakhir.
“Branding destinasi tidak cukup hanya melalui logo atau promosi. Diperlukan karakter yang mampu menciptakan pengalaman, membangun memori, dan mudah diterapkan pada berbagai media komunikasi. Maskot Kuntul diharapkan menjadi identitas yang memperkuat positioning Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai destinasi wisata edukasi berbasis konservasi,” tuturnya.
Selama pameran berlangsung, stan UPN “Veteran” Jawa Timur menjadi salah satu yang ramai dikunjungi, terutama oleh siswa-siswi dari berbagai sekolah. Selain melihat poster hasil riset dan purwarupa maskot Kuntul, para pengunjung juga antusias mengikuti penjelasan mengenai proses perancangannya. Pembagian stiker bergambar maskot Kuntul secara gratis semakin menarik perhatian para pelajar sehingga stan UPN menjadi salah satu pusat interaksi edukatif selama festival.
Melalui keikutsertaan dalam Festival Riset dan Inovasi ini, UPN “Veteran” Jawa Timur menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan riset yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi pengembangan identitas destinasi wisata berbasis konservasi di Kota Surabaya. (Penulis: Bayu Setiawan)











