Bicarasurabaya.com – Sekitar 7.000 ton sampah pembalut dihasilkan di Surabaya setiap tahun. Di sisi lain, belanja untuk produk sekali pakai ini diperkirakan mencapai Rp900 miliar per tahun.
Data itu menjadi sorotan dalam peringatan Hari Bumi 2026, saat Pemkot Surabaya bersama Bumbi meluncurkan gerakan “She Heroes” di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Tunjungan, Minggu (26/4/2026).
Aksi yang diikuti sekitar 500 perempuan ini mendorong peralihan dari pembalut sekali pakai ke produk ramah lingkungan guna menekan timbulan sampah plastik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Surabaya, M. Fikser, menegaskan sampah pembalut dan popok sekali pakai menjadi persoalan serius karena sulit terurai.
“Sampah ini bisa bertahan sangat lama dan mencemari lingkungan, terutama sungai. Upaya pengurangannya harus dimulai dari sekarang,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Ia menilai perempuan dan generasi muda memiliki peran penting sebagai agen perubahan, terutama dalam membangun kebiasaan ramah lingkungan dari lingkup keluarga.
Sementara itu, Founder dan CEO Bumbi, Celia Siura, menjelaskan tingginya volume sampah pembalut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan.
“Sebagian besar sampah ini berakhir di sungai dan laut, lalu terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi berdampak pada kesehatan manusia dalam jangka panjang.
Sebagai alternatif, Bumbi mendorong penggunaan pembalut pakai ulang (reusable pads) yang dinilai lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Gerakan “She Heroes” ditutup dengan deklarasi komitmen peserta untuk mulai mengurangi penggunaan pembalut sekali pakai.
Pemkot Surabaya berharap langkah ini menjadi pintu masuk perubahan gaya hidup yang lebih berkelanjutan, sekaligus menekan beban sampah kota yang terus meningkat.(BS/za)











