Bicarasurabaya.com– Perayaan Tahun Baru Imlek dinilai menjadi momentum memperkuat toleransi dan persaudaraan di tengah keberagaman. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat menjaga harmoni, terutama di Jawa Timur yang dikenal sebagai provinsi multikultur.
Menurut Khofifah, Imlek bukan hanya perayaan umat Tionghoa, tetapi juga pengingat pentingnya hidup berdampingan secara damai.
“Perbedaan adalah kekuatan. Kita harus terus menumbuhkan toleransi dan saling menghormati agar persatuan tetap terjaga,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Khofifah menekankan tiga nilai utama dalam merawat kerukunan, yakni understanding (saling memahami), respect (saling menghormati), dan trust (saling percaya). Ketiganya dinilai menjadi fondasi masyarakat yang damai dan sejahtera.
Ia menyebut Jawa Timur selama ini dikenal memiliki tingkat kerukunan yang baik antarumat beragama dan antarkelompok masyarakat. Namun, kondisi tersebut harus terus dijaga melalui dialog, gotong royong, dan keterbukaan.
“Mari kita rawat kebersamaan ini agar Jawa Timur tetap menjadi rumah yang nyaman bagi semua,” katanya.
Sambut Ramadan dengan Kesalehan Sosial
Khofifah juga mengaitkan semangat Imlek dengan momentum menjelang Ramadan. Ia mengajak masyarakat memperkuat kesalehan sosial, bukan hanya kesalehan pribadi.
Menurutnya, suasana saling menghargai akan membuat ibadah lebih khusyuk dan menghadirkan kedamaian bersama.
Ia menegaskan, menjaga kerukunan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Dengan solidaritas dan sikap terbuka, potensi konflik bisa ditekan dan persatuan semakin kokoh.
Khofifah optimistis nilai toleransi yang tumbuh dalam berbagai momentum keagamaan akan memperkuat persatuan bangsa serta menciptakan suasana kondusif bagi pembangunan di Jawa Timur.(BS/za)











