ITS Ungkap Potensi dan Risiko Bioetanol E10 untuk Kendaraan

- Publisher

Sabtu, 8 November 2025 - 13:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar Konversi Energi ITS Prof Dr Ir Bambang Sudarmanta ST MT IPM AEng . (Foto: Humas ITS/BS)

i

Pakar Konversi Energi ITS Prof Dr Ir Bambang Sudarmanta ST MT IPM AEng . (Foto: Humas ITS/BS)

Bicarasurabaya.com – Rencana pemerintah mewajibkan pencampuran bensin dengan bioetanol 10 persen (E10) memunculkan kekhawatiran publik, khususnya soal dampaknya pada mesin kendaraan. Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Bambang Sudarmanta, menilai kekhawatiran itu wajar, tetapi sebagian besar dapat dijawab oleh temuan ilmiah.

Bambang menjelaskan, bioetanol merupakan bahan bakar terbarukan yang sifat fisikokimianya mendekati bensin. Karena itu, bahan bakar dengan formula C₂H₅OH tersebut bisa digunakan sebagai campuran maupun substitusi sebagian bensin. “Bioetanol bersifat karbon netral dan bahan bakunya melimpah, seperti tebu dan singkong,” ujarnya.

Baca Juga:  Harga Cabai Rawit Jatim Tembus Rp 37 Ribu per Kg

Menurut penelitian yang ia lakukan, performa mesin tidak banyak berubah ketika bensin dicampur bioetanol hingga 10 persen. “Pengurangan tenaga baru terasa pada campuran 15 sampai 20 persen,” kata Manajer Senior Science Techno Park (STP) Klaster Otomotif ITS itu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bioetanol juga memiliki angka oktan tinggi—sekitar 108 hingga 120—yang membuat pembakaran lebih efisien dan menurunkan risiko knocking. Hal ini, menurut Bambang, membantu mesin bekerja lebih stabil dalam tekanan dan suhu tinggi.

Baca Juga:  Kabar untuk ASN Surabaya, Gaji Ke-13 Segera Dibayarkan

Meski demikian, bioetanol memiliki sifat higroskopis yang mudah menyerap air. Di iklim lembap seperti Indonesia, kualitas campuran bisa menurun jika penanganannya keliru. Selain itu, sifat pelarutnya berpotensi menyebabkan korosi pada logam dan merusak komponen karet.

“Adaptasi material dan perawatan sistem bahan bakar penting. Selama penanganannya benar, kualitas dapat terjaga,” tegasnya.

Bioetanol memiliki nilai kalor sekitar 35 persen lebih rendah dibanding bensin. Akibatnya, energi pembakaran sedikit berkurang. Namun Bambang menilai efek ini tidak signifikan untuk campuran rendah seperti E10.

Baca Juga:  Konvoi Dini Hari, Polisi Amankan 10 Pelajar Beratribut Gangster di Surabaya

Bambang menekankan bahwa keberhasilan penerapan bioetanol bergantung pada kesiapan hulu hingga hilir: pasokan bahan baku, teknologi pencampuran, sistem penyimpanan, hingga distribusi. “Setiap tahap harus diawasi agar mutu bahan bakar stabil,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan bioetanol sejalan dengan target SDGs terkait energi bersih dan mitigasi perubahan iklim. Dengan regulasi yang tepat dan edukasi publik, Indonesia dinilai mampu beralih bertahap menuju sistem energi yang lebih hijau.(BS/za)

Berita Terkait

Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo
Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya
Tempong Sri Dewi Minta Maaf Usai Ledakan LPG di San Antonio Surabaya
Dampak Ledakan Pakuwon City Capai Radius 50 Meter, Puluhan Bangunan Rusak
5 Korban Ledakan Pakuwon City Dirawat, 2 Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo
3 LPG 50 Kg Diduga Picu Ledakan Dahsyat di Pakuwon City, Polisi: Bukan Bom
58 ASN Surabaya Kena Sanksi, Ada yang Mangkir Lebih dari 10 Hari
Ruko Nasi Tempong Sri Dewi Jadi Pusat Ledakan Pakuwon City

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Dampak Ledakan Pakuwon City Capai Radius 50 Meter, Puluhan Bangunan Rusak

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:37 WIB

5 Korban Ledakan Pakuwon City Dirawat, 2 Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:15 WIB

3 LPG 50 Kg Diduga Picu Ledakan Dahsyat di Pakuwon City, Polisi: Bukan Bom

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi Harga Emas Naik/bs

Bicara Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Okt 2026 - 10:00 WIB

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB