Pemkot Surabaya Pastikan Pasokan Cabai Merah dan Rawit Aman

- Publisher

Jumat, 19 September 2025 - 18:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bicarasurabaya.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok, seperti cabai di pasar tradisional. Upaya tersebut dilakukan melalui Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), hingga memperkuat Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan daerah penghasil.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Kota Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, menyampaikan hasil pantauan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menunjukkan adanya tren kenaikan harga cabai dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, harga tersebut masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan Tingkat Konsumen (HAPK).

“Hasil pantauan TPID di lima pasar tradisional, yakni Pasar Genteng Baru, Pasar Tambahrejo, Pasar Wonokromo, Pasar Pucang Anom, dan Pasar Soponyono, memang harga cabai menunjukkan adanya tren kenaikan. Namun, harga tersebut masih di bawah HAPK,” ujar Vykka, Jumat (19/9/2025).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data hasil pengamatan tim survei TPID Surabaya, harga cabai merah besar dengan HAPK Rp35.728 per kilogram sempat berada di angka Rp39.200 pada 4 Agustus 2025. Harga kemudian turun menjadi Rp27.600 pada 3 September 2025, sebelum kembali naik ke Rp34.760 pada 17 September 2025.

Baca Juga:  Pertama di Indonesia, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Siap Beroperasi di Surabaya

Untuk cabai merah keriting, dengan HAPK Rp37.000-Rp55.000, tercatat Rp37.600 pada 4 Agustus 2025, turun menjadi Rp24.900 pada 1 September 2025, lalu meningkat menjadi Rp40.450 pada 17 September 2025.

Adapun cabai rawit merah dengan HAPK Rp40.000-Rp57.000, sempat berada di angka Rp38.800 pada 4 Agustus 2025, turun ke Rp26.800 pada 3 September 2025, dan kembali naik menjadi Rp34.700 pada 17 September 2025.

Vykka menegaskan, Pemkot Surabaya bersama lintas lembaga terus melakukan pengawasan dan sidak untuk mencegah penimbunan bahan pokok. Pengawasan tersebut melibatkan TPID, Satgas Pangan Polrestabes Surabaya, Satgas Pangan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, serta Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Baca Juga:  Gandeng BUMN, Pelaku UMKM Gelar Pameran dengan Transaksi Cashless

“Kami juga memberikan imbauan kepada pelaku usaha distribusi bahan pokok (produsen, distributor, pedagang) untuk tidak melakukan penimbunan,” jelasnya.

Untuk memudahkan masyarakat memperoleh informasi harga, Pemkot Surabaya juga menyediakan sistem informasi harga dan stok bahan pokok yang dapat diakses di sejumlah pasar tradisional. “Terdapat layar monitor yang menyajikan informasi harga dan ketersediaan di Pasar Tambahrejo, Pasar Genteng Baru, Pasar Wonokromo, dan Pasar Pabean,” katanya.

Selain cabai, Vykka memastikan bahwa Pemkot Surabaya juga menjaga stabilitas harga bahan pokok lain seperti bawang merah, telur, dan minyak goreng. “Kami menggelar Pasar Murah di 31 kecamatan secara bergilir setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis, serta Operasi Pasar beras SPHP dan Minyakita,” ujar Vykka.

Bahkan, Vykka menyebut, Pemkot Surabaya rutin menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) setiap bulan dan merealisasikan KAD dengan daerah penghasil. “Selain itu juga ada kios TPID yang beroperasi setiap hari di beberapa pasar di Kota Surabaya,” imbuhnya.

Baca Juga:  DPKP Surabaya Terbitkan SE Cegah Risiko Kebakaran Saat Lebaran 2025

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menyampaikan sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan cabai.

“Pemkot Surabaya melalui DKPP melakukan gerakan menanam tanaman yang mempengaruhi stabilitas harga komoditas tertentu, seperti cabai dan bawang merah. Ini untuk mengantisipasi kenaikan harga sehingga mengurangi kebutuhan konsumsi rumah tangga di pasar,” kata Antiek.

Di samping itu, Antiek juga menegaskan bahwa Pemkot Surabaya menjalin kerja sama dengan berbagai daerah penghasil cabai untuk menjaga pasokan tetap stabil.

“Surabaya telah melakukan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antar pemerintah daerah (G to G) dan ditindaklanjuti B to B di beberapa daerah penghasil cabai, seperti Kabupaten Kediri, Malang, Bojonegoro, Gresik, Probolinggo, Nganjuk, Mojokerto, dan Sidoarjo,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

3 Korban Ledakan Ruko Pakuwon City Jalani Operasi di RSUD Soetomo
2 Korban Ledakan Pakuwon City Jalani Operasi, Kini Dirawat di ICU
Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo
Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya
Tempong Sri Dewi Minta Maaf Usai Ledakan LPG di San Antonio Surabaya
Dampak Ledakan Pakuwon City Capai Radius 50 Meter, Puluhan Bangunan Rusak
5 Korban Ledakan Pakuwon City Dirawat, 2 Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo
3 LPG 50 Kg Diduga Picu Ledakan Dahsyat di Pakuwon City, Polisi: Bukan Bom

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:17 WIB

3 Korban Ledakan Ruko Pakuwon City Jalani Operasi di RSUD Soetomo

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:43 WIB

2 Korban Ledakan Pakuwon City Jalani Operasi, Kini Dirawat di ICU

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:54 WIB

Tempong Sri Dewi Minta Maaf Usai Ledakan LPG di San Antonio Surabaya

Berita Terbaru

Kondisi kecelakaan pasca alami kecelakaan di Tol Ngawi-Solo. (Foto: Gakum Polres Ngawi/Ist)

Bicara Jatim

Kecelakaan 3 Truk di Tol Ngawi-Solo, 1 Tewas dan 4 Luka

Rabu, 7 Okt 2026 - 13:46 WIB

Foto: Ilustrasi Harga Emas Naik/bs

Bicara Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Okt 2026 - 10:00 WIB