Bicarasurabaya.com – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih mengganggu penerbangan di Sumatra dan Jawa. Hingga Senin (7/9/2026) pukul 09.00 WIB, sekitar 2.300 penerbangan dan 270.337 penumpang terdampak.
Tujuh bandara masih ditutup sementara hingga pukul 18.00 WIB karena kondisi tersebut. Kementerian Perhubungan masih memantau perkembangan sebaran abu sebelum menentukan apakah operasional bisa kembali dibuka.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan keputusan penutupan dapat berubah mengikuti kondisi terbaru yang dipantau BMKG.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Penutupan operasional bandara sementara masih dilanjutkan hingga pukul 18.00 WIB. Namun kami terus memantau informasi terbaru dari BMKG,” kata Dudy saat memantau Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (7/9).
7 Bandara Masih Ditutup
Tujuh bandara yang masih ditutup sementara yakni:
Bandara Soekarno-Hatta, Banten
Bandara Radin Inten II, Lampung
Bandara Budiarto, Banten
Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta
Bandara Pondok Cabe, Banten
Bandara Muhammad Taufiq Kiemas, Lampung
Bandara Husein Sastranegara, Jawa Barat
Sementara Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan, yang sebelumnya ikut ditutup, sudah kembali beroperasi normal sejak Senin pukul 09.00 WIB.
Abu vulkanik masih menjadi perhatian karena Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Minggu malam. Material vulkanik baru kemudian terbawa angin ke sejumlah wilayah sekitar bandara.
“Dari BMKG disampaikan arah angin di sekitar Gunung Anak Krakatau terdapat pada beberapa layer berbeda-beda. Sehingga debu masih bertahan di sekitar bandara-bandara yang dekat Gunung Anak Krakatau,” ujar Dudy yang dikutip dari laman resmi Kementerian Perhubungan.
Pemantauan BMKG pada Senin pagi menunjukkan sebaran abu masih berada pada dua lapisan ketinggian, yakni hingga 15.000 kaki dan 50.000 kaki. Kondisi itu masih berpotensi mengganggu jalur penerbangan.
270 Ribu Penumpang Terdampak
Gangguan penerbangan tersebut merupakan akumulasi sejak 5 September 2026. Dari total sekitar 2.300 penerbangan terdampak, sebanyak 1.397 penerbangan berada di bandara yang ditutup sementara dengan sekitar 177.579 penumpang terdampak.
Sementara 922 penerbangan lainnya terdampak akibat penyesuaian rute, dengan sekitar 92.758 penumpang.
Dampaknya mencakup penerbangan yang dibatalkan, ditunda, maupun dialihkan.
Kemenhub berkoordinasi dengan maskapai dan pengelola bandara untuk menangani penumpang yang terdampak. Jika kondisi memungkinkan dan bandara kembali dibuka, operasional penerbangan juga tidak serta-merta langsung normal.
Runway, taxiway, dan apron harus lebih dulu diperiksa serta dibersihkan dari abu vulkanik sebelum digunakan kembali.
Enam Bandara Jadi Alternatif
Untuk menjaga konektivitas penerbangan selama sejumlah bandara ditutup, Kemenhub menyiapkan enam bandara alternatif. Bandara tersebut yakni Juanda di Jawa Timur, Adi Soemarmo dan Jenderal Ahmad Yani di Jawa Tengah, Yogyakarta International Airport (YIA) dan Adisutjipto di DI Yogyakarta, serta Kertajati di Jawa Barat.
Kemenhub mendorong maskapai memanfaatkan bandara alternatif tersebut sesuai kondisi dan rute yang tersedia.
“Kami mendorong maskapai dapat menggunakan bandara-bandara tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan terbang,” kata Dudy.
Namun, penggunaan bandara alternatif tetap bergantung pada kesiapan bandara, kondisi operasional, rute penerbangan, serta keputusan masing-masing maskapai.
Bagi calon penumpang, Kemenhub meminta status penerbangan dipastikan terlebih dahulu kepada maskapai sebelum berangkat ke bandara. Penumpang yang terdampak juga diminta mengikuti kebijakan maskapai terkait perubahan jadwal atau pengalihan penerbangan.
Status operasional bandara masih bisa berubah sewaktu-waktu. Karena itu, penumpang diminta terus memantau informasi resmi Kemenhub, Ditjen Perhubungan Udara, dan maskapai masing-masing. (BS/za)











