Bicarasurabaya.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Inovasi Pesantren Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur mengembangkan sistem aquaponik di Pondok Pesantren Nurul Iman, Dusun Togor, Desa Gebangan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
Inovasi tersebut memadukan budidaya ikan dengan penanaman sayuran tanpa tanah dalam satu sistem terpadu. Program itu diarahkan tidak hanya sebagai sarana pembelajaran teknologi pertanian bagi santri, tetapi juga untuk mendukung kemandirian pangan di lingkungan pesantren.
Ketua Kelompok KKN Inovasi Pondok Pesantren Nurul Iman Putri, Aura Arwa Azzahra, mengatakan aquaponik dipilih karena relatif hemat lahan dan mampu menghasilkan dua komoditas pangan sekaligus, yakni ikan dan sayuran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Melalui aquaponik, satu instalasi bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan sekaligus sayuran. Kami berharap sistem ini dapat terus dikelola oleh santri sehingga manfaatnya tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai,” kata Aura.
Aquaponik merupakan sistem budidaya yang mengintegrasikan akuakultur dan hidroponik dalam satu siklus. Limbah organik dari kolam ikan dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. Sementara akar tanaman membantu menyaring air sebelum dialirkan kembali menuju kolam.
Menurut Aura, konsep tersebut dipilih karena sesuai dengan kebutuhan pesantren yang membutuhkan sistem produksi pangan sederhana, efisien, dan dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Selain mengenalkan teknologi pertanian, program ini kami arahkan untuk membangun kesadaran bahwa lahan yang terbatas tetap dapat dimanfaatkan secara produktif. Hasilnya nanti juga bisa digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan di lingkungan pesantren,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN menanam tiga jenis sayuran, yakni kailan, pakcoy, dan kangkung. Pemilihan ketiganya mempertimbangkan masa pertumbuhan yang relatif cepat serta kemampuan tanaman menyerap nutrisi dari air kolam.
Sayuran tersebut juga diharapkan dapat menjadi tambahan sumber pangan bergizi bagi para santri. Dengan sistem yang berjalan secara berkelanjutan, pesantren dapat melakukan penanaman dan panen secara berkala.
Pembuatan instalasi aquaponik dilakukan melalui sejumlah tahapan. Mahasiswa terlebih dahulu menyiapkan kolam ikan dengan melakukan penggalian tanah dan pemasangan terpal. Setelah itu, tim merakit pompa serta jaringan pipa PVC sebagai jalur sirkulasi air menuju instalasi hidroponik.
Air dari kolam dipompa menuju bagian atas instalasi untuk membasahi akar tanaman. Setelah nutrisi dalam air diserap tanaman, air kemudian mengalir kembali menuju kolam sehingga dapat digunakan secara berulang.
Sistem sirkulasi tersebut membuat penggunaan air menjadi lebih efisien dibandingkan pola budidaya konvensional. Pada saat yang sama, tanaman memperoleh pasokan nutrisi secara kontinu, sementara kualitas air kolam dapat lebih terjaga.
Dosen Pendamping Lapangan (DPL) R. Ayu Firdausi Novira R menilai program aquaponik memiliki nilai strategis karena menggabungkan aspek edukasi, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kemandirian pangan di lingkungan pesantren.
“Program KKN tidak cukup hanya menghasilkan fasilitas fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana inovasi yang dibawa mahasiswa dapat dipahami, dikelola, dan diteruskan oleh masyarakat atau mitra setelah program selesai,” kata Ayu.
Menurutnya, aquaponik juga relevan diterapkan di lingkungan pesantren karena tidak membutuhkan lahan luas dan dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan.
“Aquaponik memberikan pengalaman belajar yang konkret bagi santri. Mereka tidak hanya memahami konsep pertanian berkelanjutan, tetapi juga belajar bagaimana memanfaatkan sumber daya secara efisien untuk menghasilkan pangan,” ujarnya.
Ayu menambahkan, keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam setiap program KKN Tematik Inovasi Pesantren. Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya membangun instalasi, tetapi juga menyiapkan mekanisme perawatan dan transfer pengetahuan kepada santri.
“Harapannya, program seperti ini dapat tumbuh menjadi bagian dari aktivitas produktif pesantren. Jika dikelola secara konsisten, bukan tidak mungkin aquaponik dapat berkembang dari sekadar sarana pembelajaran menjadi salah satu pendukung kemandirian pangan pesantren,” kata Ayu. (Penulis: R. Ayu Firdausi Novira R dan Tim KKN Inovasi Pesantren PP Nurul Iman Putri )











