Bicarasurabaya.com – Limbah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak harus berakhir di tempat sampah. Mahasiswa Kelompok 14 KKN Inovasi Pesantren UPN “Veteran” Jawa Timur mengajak santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin 2, Blitar, mengolah sisa makanan dan kulit buah menjadi kompos serta eco enzyme yang dapat dimanfaatkan kembali.
Edukasi tersebut dikemas melalui Pelatihan Pembuatan Kompos dan Eco Enzyme dari Limbah MBG yang digelar Jumat (31/7/2026). Sebanyak 20 santri dan santriwati jenjang SMP, khususnya perwakilan kelas VIII dan IX, mengikuti kegiatan yang memadukan edukasi lingkungan dengan praktik pengolahan sampah organik.
Program ini menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN dalam mendorong pengelolaan limbah MBG secara lebih bertanggung jawab di lingkungan pesantren. Tidak hanya membahas persoalan sampah, mahasiswa juga membekali para santri dengan keterampilan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa terlebih dahulu mengenalkan konsep reduce, reuse, recycle (3R) serta pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya. Limbah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, hingga sisa bahan makanan dijelaskan masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan apabila dipisahkan dari sampah anorganik dan dikelola dengan benar.
Mahasiswa juga menekankan bahwa bertambahnya aktivitas konsumsi makanan perlu diimbangi dengan kesadaran dalam mengelola limbah yang dihasilkan. Melalui cara tersebut, keberadaan program MBG tidak hanya dapat dilihat dari aspek pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi ruang edukasi mengenai konsumsi dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

Usai memperoleh materi, para santri langsung mengikuti praktik pembuatan kompos dan eco enzyme. Dengan pendampingan mahasiswa KKN, peserta belajar mengenali jenis limbah yang dapat digunakan, menyiapkan bahan, melakukan pencampuran, hingga memahami tahapan pengolahan dan fermentasi.
Untuk pembuatan kompos, sisa bahan organik dimanfaatkan sebagai bahan utama yang nantinya dapat digunakan untuk membantu menyuburkan tanaman di lingkungan pesantren. Sementara kulit buah digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan eco enzyme melalui proses fermentasi.
Praktik secara langsung membuat kegiatan berlangsung interaktif. Para santri terlihat aktif bertanya dan mencoba setiap tahapan pengolahan. Bagi sebagian peserta, pelatihan tersebut juga memberikan pengetahuan baru bahwa sampah organik yang sehari-hari dibuang ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat.
“Kami ingin santri melihat bahwa limbah organik tidak selalu harus langsung dibuang. Sisa makanan dan kulit buah masih bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat jika dikelola dengan tepat,” ujar salah satu mahasiswa KKN Kelompok 14.
Menurut mahasiswa, perubahan perilaku terhadap sampah dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana, mulai dari memilah sampah, mengurangi limbah yang dibuang, hingga memanfaatkan kembali bahan organik yang masih memiliki nilai guna.
Kegiatan KKN Inovasi Pesantren tersebut berada di bawah koordinasi LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Ririn Puspita Tutriasri, S.I.Kom., M.Med.Kom., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Politik, Sosial dan Budaya UPN “Veteran” Jawa Timur.
Ririn menilai pengolahan limbah MBG menjadi kompos dan eco enzyme memiliki nilai penting karena menggabungkan aspek pendidikan, pemberdayaan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya hadir membawa program, tetapi juga perlu meninggalkan pengetahuan yang dapat diteruskan oleh masyarakat setelah KKN berakhir.
“Yang paling penting bukan hanya bisa membuat kompos atau eco enzyme, tetapi membangun kesadaran bahwa persoalan sampah menjadi tanggung jawab bersama,” kata Ririn.
Ia mengatakan pesantren memiliki posisi strategis dalam menumbuhkan kebiasaan ramah lingkungan. Pola kehidupan bersama di lingkungan pondok memungkinkan praktik pemilahan dan pengolahan sampah diterapkan secara kolektif serta menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari para santri.
“Kami berharap praktik ini terus dilanjutkan setelah KKN selesai. Kebiasaan memilah dan mengolah sampah organik dapat menjadi bagian dari budaya pesantren yang lebih peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Menurut Ririn, keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam program pengabdian masyarakat. Karena itu, keterampilan yang diperoleh santri diharapkan tidak berhenti pada saat pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara mandiri dan ditularkan kepada santri lainnya.
Dengan pola tersebut, santri diharapkan dapat menjadi agen perubahan di lingkungan pesantren. Pengetahuan mengenai pengolahan sampah juga dapat dibawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat sehingga manfaat program tidak terbatas hanya pada peserta pelatihan.
Program ini sekaligus memiliki keterkaitan dengan sejumlah agenda Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran berbasis praktik, serta SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan kembali limbah organik.
Selain itu, pengelolaan sampah secara lebih baik turut mendukung SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Pengurangan limbah organik yang langsung dibuang menjadi salah satu langkah sederhana dalam membangun lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Kelompok 14 berharap pengolahan limbah MBG dapat diterapkan secara rutin di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin 2. Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk tanaman di lingkungan pondok, sedangkan pemanfaatan kulit buah menjadi eco enzyme dapat menjadi alternatif pengelolaan limbah organik.
Dari lingkungan pesantren, langkah sederhana tersebut diharapkan berkembang menjadi budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Limbah MBG tidak lagi hanya dipandang sebagai sisa konsumsi yang harus dibuang, tetapi sebagai bahan yang masih dapat diolah dan memberikan manfaat.
Melalui semangat mengubah sampah menjadi berkah, mahasiswa KKN Inovasi Pesantren UPN “Veteran” Jawa Timur bersama para santri menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana, yakni memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali limbah yang dihasilkan sehari-hari.
(Penulis: Ririn Puspita Tutriasri/Tim KKN UPN “Veteran” Jawa Timur)











