Bicarasurabaya.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Inovasi Pesantren Kelompok 13 Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur membangun kolam ikan di Pondok Pesantren Nurul Iman, Kabupaten Probolinggo. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung kemandirian pangan pesantren, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif dan kewirausahaan bagi para santri.
Kolam yang digunakan untuk budidaya ikan itu diresmikan pada Senin (10/8/2026). Peresmian itu ditandai dengan pelepasan benih ikan ke dalam kolam tersebut. Pelepasan benih itu dilakukan oleh Habib Segaf bin Abdul Qodir Assegaf sebagai perwakilan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman, Ketua Yayasan Nurul Iman Ustadz Abdol Rasek, S.H., dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UPN “Veteran” Jawa Timur Mohammad Syarrafah, S.Sos.I., M.I.Kom.
Program tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman, Al-Habib Hasan bin Ismail Al-Muhdhor, yang mendorong adanya sarana budidaya mandiri untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan santri. Pemanfaatan lahan di lingkungan pesantren tersebut sekaligus diharapkan menjadi langkah awal pengembangan kegiatan ekonomi produktif yang dapat dikelola secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perwakilan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman, Habib Segaf bin Abdul Qodir Assegaf, mengapresiasi program yang dijalankan mahasiswa KKN. Menurutnya, kolam budidaya tersebut memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi.
“Kami berharap kolam ini bisa mendukung kebutuhan pangan santri sekaligus menjadi tempat mereka belajar mandiri dan berwirausaha,” kata Habib Segaf.
Sementara itu, Ketua Kelompok KKN, Nizam, menjelaskan bahwa pembangunan kolam dilakukan selama kurang lebih dua minggu melalui gotong royong mahasiswa KKN. Kolam menggunakan sistem terpal yang dipadukan dengan instalasi perpipaan sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan di area belakang pondok pesantren.
“Jenis ikan yang dipilih untuk dibudidayakan meliputi lele, nila, dan gurami. Pemilihan ketiga jenis ikan tersebut mempertimbangkan kemudahan pemeliharaan, kebutuhan konsumsi pesantren, serta peluang pengembangannya sebagai komoditas bernilai ekonomi,” kata dia.
Selain menjadi sumber pangan, budidaya tersebut memiliki peluang dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif berbasis pesantren. Hasil budidaya tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk konsumsi internal, tetapi dalam jangka panjang berpotensi diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah yang melibatkan kreativitas dan keterampilan para santri.
“Ikan hasil budidaya, misalnya, dapat dikembangkan menjadi produk olahan seperti abon ikan, kerupuk ikan, bakso ikan, maupun makanan siap saji. Produk tersebut selanjutnya dapat dikemas, diberi identitas atau merek pesantren, serta dipasarkan kepada masyarakat sekitar maupun melalui media digital,” tegasnya.
Dengan demikian, kegiatan budidaya dapat berkembang dari sekadar aktivitas produksi pangan menjadi sebuah rantai ekonomi sederhana mulai dari budidaya, pengolahan produk, pengemasan, branding hingga pemasaran. “Pola tersebut sekaligus dapat menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi santri,” imbuhnya.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN UPN “Veteran” Jawa Timur, Mohammad Syarrafah, S.Sos.I., M.I.Kom., menilai keberlanjutan program tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan KKN. “Kami ingin program KKN ini tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi dapat terus dikembangkan dan memberikan nilai ekonomi bagi pesantren,” ujar Rafa -sapaan Mohammad Syarrafah.
Menurutnya, pengembangan kolam ikan beserta budidayanya juga menunjukkan bagaimana pesantren dapat mengintegrasikan ketahanan pangan dengan pemberdayaan ekonomi. Santri tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai budidaya ikan, tetapi juga dapat belajar mengembangkan produk, membuat kemasan, membangun merek hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran.
“Budidaya ini bisa menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekonomi kreatif pesantren. Santri dapat belajar dari proses produksi sampai bagaimana produk itu memiliki nilai tambah,” katanya.
Konsep tersebut sejalan dengan upaya membangun pesantren yang semakin produktif dan mandiri. Ketika hasil panen mampu memenuhi sebagian kebutuhan dapur, pesantren dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar. “Di sisi yang lain, ketika produksi berkembang, hasil budidaya dapat diarahkan menjadi unit usaha yang memberikan tambahan nilai ekonomi bagi pesantren,” tegasnya.
Bagi dia, keterlibatan santri dalam pengelolaan budidaya ikan ini juga memberikan dimensi pendidikan. Mereka dapat belajar mengenai tanggung jawab, manajemen produksi, kerja sama, kreativitas hingga pengelolaan usaha sederhana yang dapat menjadi bekal ketika terjun ke masyarakat.
“Melalui program tersebut, kami tim KKN dari UPN “Veteran” Jawa Timur berharap kolam ikan di Pondok Pesantren Nurul Iman ini dapat terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir. Tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga menjadi embrio kegiatan ekonomi produktif yang memperkuat kemandirian pangan, kewirausahaan santri, dan ekonomi kreatif berbasis pesantren,” pungkasnya. (Penulis: Mohammad Syarrafah dan Tim KKN PP Nurul Iman Putra)











