Bicarasurabaya.com – Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mengakselerasi hilirisasi hasil riset perguruan tinggi dengan membeli sejumlah alat dan mesin pertanian (alsintan) serta benih jagung hasil inovasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan dan PT ITS Tekno Sains di Kampus ITS Buncitan, Sidoarjo.
Dalam kesempatan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan hasil riset kampus harus dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat, khususnya untuk memperkuat sektor pertanian nasional.
Sebagai bentuk dukungan, Kementan memesan sejumlah alsintan inovasi ITS yang telah melalui uji coba lapangan. Produk tersebut meliputi traktor listrik, alat pemanjat kelapa Mocits, dan mesin penanam padi listrik Ropatama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Amran, alat pemanjat kelapa memiliki potensi besar meningkatkan produktivitas sekaligus keselamatan petani, mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai sekitar 2,8-3 juta ton per tahun.
“Kami ingin hasil riset perguruan tinggi benar-benar digunakan masyarakat dan mendukung swasembada pangan,” ujarnya dalaml keterangannya yang dikutip, Kamis (23/7/2026).
Tak hanya alsintan, Kementan juga membeli 200 ton benih jagung unggulan hasil penelitian dosen Departemen Biologi ITS, Mukhammad Muryono. Benih tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan produksi hingga 10 ton per hektare untuk lahan seluas 13 ribu hektare, dengan nilai pembelian mencapai Rp10 miliar.
Amran mengatakan, apabila produktivitas tersebut dapat dipertahankan secara konsisten di lapangan, nilai pembelian benih berpeluang ditingkatkan hingga 10 kali lipat atau sekitar Rp100 miliar dalam kurun 10 tahun.
“Kalau produktivitas itu tercapai, kita bisa meningkatkan produksi jagung nasional tanpa membuka lahan baru,” katanya.
Rektor ITS Bambang Pramujati menyambut positif kepercayaan yang diberikan Kementan terhadap hasil riset kampus. Menurutnya, kerja sama ini menjadi peluang agar inovasi akademik tidak berhenti di laboratorium, melainkan masuk ke tahap produksi dan dimanfaatkan petani.
Saat ini, seluruh alsintan masih menjalani pengujian lapangan. Jika hasilnya sesuai harapan, ITS akan menggandeng mitra industri untuk memproduksi peralatan tersebut secara massal.
“Kampus tidak bisa membangun industri sendiri. Karena itu kami akan berkolaborasi dengan dunia usaha agar inovasi ini dapat diproduksi dan dimanfaatkan secara luas,” ujar Bambang.
Kerja sama ini menjadi salah satu langkah mendorong hilirisasi riset perguruan tinggi, sekaligus mempercepat adopsi teknologi dalam sektor pertanian guna meningkatkan produktivitas pangan nasional. (BS/za)











