Khofifah: Combine Harvester Pangkas Panen dari 3 Hari Jadi 1 Jam per Hektare

- Publisher

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Humas Pemprov Jatim

i

Foto: Humas Pemprov Jatim

Bicarasurabaya.com – Mekanisasi pertanian menjadi salah satu cara Pemprov Jawa Timur meningkatkan produktivitas sekaligus menekan kehilangan hasil panen. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut penggunaan combine harvester bisa memangkas waktu panen dari tiga hari menjadi sekitar satu jam per hektare.

Hal itu disampaikan Khofifah saat menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani di Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Di Mojokerto, Pemprov Jatim menyerahkan lima unit pompa air dan dua unit combine harvester besar. Bantuan tersebut diharapkan mempercepat panen, memperkuat pengairan, sekaligus menekan biaya operasional petani.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Panen dengan cara manual itu tiga hari satu hektare, kalau pakai combine harvester di tanah yang seperti ini bisa satu jam per hektare,” kata Khofifah dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).

Menurut dia, pemanfaatan combine harvester juga bisa dilakukan bersama antarkelompok tani. Dengan pola tersebut, alat tidak hanya digunakan oleh satu kelompok, tetapi dapat dipinjamkan atau disewakan kepada kelompok lain.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Selamatkan Aset Rp992 Miliar, 2.327 Register Dikebut

Khofifah mengatakan mekanisasi tidak hanya mempercepat panen. Penggunaan combine harvester juga dapat menekan kehilangan hasil atau losses.

Menurutnya, kehilangan hasil panen dengan metode manual bisa mencapai 9-11 persen. Dengan combine harvester, angka tersebut diperkirakan turun menjadi sekitar 1-2 persen.

“Kalau panen manual losses-nya bisa 9 sampai 11 persen. Kalau pakai combine harvester kira-kira tinggal satu sampai dua persen,” ujarnya.

Pemprov Jatim menyiapkan 341 unit alsintan untuk mendukung swasembada pangan. Rinciannya 231 unit untuk prapanen dan 110 unit untuk pascapanen.

Khusus Mojokerto, lima pompa air diberikan kepada kelompok tani di Kecamatan Kutorejo dan Trowulan. Sementara dua combine harvester diserahkan kepada Poktan Tani Makmur Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal, dan Poktan Rukun Tani Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari.

Penguatan mekanisasi dilakukan di tengah tingginya produksi padi Jawa Timur. Berdasarkan data BPS yang dirilis 1 Oktober 2026, potensi produksi padi Jatim periode Januari-November 2026 mencapai 10.240.964 ton Gabah Kering Giling (GKG).

Baca Juga:  Surabaya Holiday Super Sale Digelar Sebulan, Target Perputaran Ekonomi Rp15 Triliun

Angka tersebut naik 283.131 ton atau 2,84 persen dibanding periode yang sama pada 2025 yang mencapai 9.957.833 ton GKG.

Capaian itu menempatkan Jatim sebagai provinsi dengan potensi produksi padi tertinggi di Indonesia. Jawa Barat berada di posisi kedua dengan 9.025.437 ton GKG, disusul Jawa Tengah 8.715.084 ton GKG.

Produksi beras Jatim pada periode yang sama mencapai 5.913.339 ton, naik 163.486 ton atau 2,84 persen dibandingkan periode Januari-November 2025.

“Per 1 Oktober produksi GKG Jawa Timur Alhamdulillah selalu tertinggi di antara semua provinsi di Indonesia. Jagung kita juga tertinggi,” ujar Khofifah.

Bagi petani, bantuan combine harvester diharapkan bisa menjawab persoalan keterlambatan alat saat musim panen.

Karsono (70), anggota Poktan Makmur Desa Sumbertebu, mengaku selama ini petani kesulitan mendapatkan combine harvester. Jarak alat yang jauh dan antrean penggunaan membuat proses panen kerap terlambat.

Baca Juga:  Surabaya Integrasikan Layanan Kesehatan dan Adminduk lewat Bunda Jelita

“Padi sudah jatuh, combi-nya baru datang. Itu kesulitannya petani sini, penghasilan jadi turun,” kata Karsono.

Ia berharap bantuan tersebut dapat digunakan untuk mempercepat panen petani di wilayahnya.
Selain mekanisasi panen, Pemprov Jatim memperkuat pengairan dengan bantuan pompa air, terutama menghadapi kondisi kemarau.

Khofifah mengatakan ketersediaan air menjadi faktor penting agar masa tanam dan produktivitas lahan tetap terjaga.

Pemprov Jatim juga menyiapkan langkah menghadapi kemarau melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Di sisi lain, masyarakat melakukan salat Istisqa untuk memohon hujan.

Khofifah menegaskan peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Karena itu, penguatan pertanian tidak cukup hanya melalui bantuan alat, tetapi juga membutuhkan ketersediaan air, sarana produksi, akses pasar, teknologi, dan kolaborasi berbagai pihak. (BS/za)

Berita Terkait

Dampak Ledakan Pakuwon City Capai Radius 50 Meter, Puluhan Bangunan Rusak
5 Korban Ledakan Pakuwon City Dirawat, 2 Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo
3 LPG 50 Kg Diduga Picu Ledakan Dahsyat di Pakuwon City, Polisi: Bukan Bom
58 ASN Surabaya Kena Sanksi, Ada yang Mangkir Lebih dari 10 Hari
Ruko Nasi Tempong Sri Dewi Jadi Pusat Ledakan Pakuwon City
UMK Jatim 2027 Belum Dibahas, Buruh Dorong Kenaikan 5-9%
Ledakan Guncang Pakuwon City Surabaya, 5 Orang Luka
Modifikasi Cuaca Digelar Lagi di Jatim, Lahan Tembakau Jadi Pengecualian

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Dampak Ledakan Pakuwon City Capai Radius 50 Meter, Puluhan Bangunan Rusak

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:37 WIB

5 Korban Ledakan Pakuwon City Dirawat, 2 Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:15 WIB

3 LPG 50 Kg Diduga Picu Ledakan Dahsyat di Pakuwon City, Polisi: Bukan Bom

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:48 WIB

58 ASN Surabaya Kena Sanksi, Ada yang Mangkir Lebih dari 10 Hari

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:31 WIB

Ruko Nasi Tempong Sri Dewi Jadi Pusat Ledakan Pakuwon City

Berita Terbaru

Ilustrasi (Foto: dok bicarasurabaya.com)

Bicara Kota

58 ASN Surabaya Kena Sanksi, Ada yang Mangkir Lebih dari 10 Hari

Selasa, 6 Okt 2026 - 08:48 WIB

Foto: Ist

Bicara Kota

Ruko Nasi Tempong Sri Dewi Jadi Pusat Ledakan Pakuwon City

Selasa, 6 Okt 2026 - 08:31 WIB