Bicarasurabaya.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menargetkan populasi sapi perah di Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (UPT PT dan HMT) Batu meningkat dari 130 menjadi 200 ekor.
Target tersebut disampaikan saat Khofifah meninjau pengelolaan peternakan sapi perah di UPT PT dan HMT Dinas Peternakan Jatim, Jalan Raya Tlekung, Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Minggu lalu.
Khofifah mengatakan pengembangan peternakan tidak cukup hanya mengandalkan penambahan populasi. Produktivitas ternak, kualitas bibit, dan ketersediaan pakan juga perlu diperkuat secara bersamaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mudah-mudahan kita bisa meluaskan dari 130 menjadi 200 ekor yang ada di UPT Kota Batu ini karena areanya cukup luas,” kata Khofifah dalam keterangannya, Selasa (22/9/2026).
Saat ini, UPT PT dan HMT Batu mengelola sekitar 130 sapi, terdiri atas:
- 72 sapi dewasa.
- 28 sapi dara.
- 30 pedet atau anak sapi.
Dari 72 sapi dewasa tersebut, sebanyak 40 ekor merupakan sapi laktasi atau sedang menghasilkan susu. Sementara 32 ekor lainnya merupakan sapi nonlaktasi.
Sapi laktasi di UPT Batu menghasilkan rata-rata 25-30 liter susu per ekor per hari. Dengan 40 sapi laktasi, total produksi susu mencapai sekitar 600 liter per hari.
Produksi susu tersebut dipasarkan dan menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemprov Jatim. Total kontribusi PAD UPT PT dan HMT Batu mencapai sekitar Rp 1 miliar per tahun.
Selain susu, pendapatan tersebut juga berasal dari agrowisata ternak, benih rumput, serta produk hilirisasi seperti keju, susu pasteurisasi, dan stik keju.
Khofifah menilai capaian tersebut menunjukkan aset peternakan milik Pemprov Jatim dapat dikelola secara produktif sekaligus memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan.
“Saya merasa bahwa proses yang dilakukan cukup bagus. Kandangnya bersih dan produktivitasnya juga tinggi. Oleh karena itu, UPT ini juga sudah memberikan PAD kepada Pemprov Jawa Timur,” ujarnya.
Dalam kunjungannya, Khofifah meninjau sejumlah aktivitas UPT, mulai dari pembibitan, pemuliabiakan, budidaya sapi perah, produksi susu, hingga pengembangan hijauan makanan ternak.
Menurutnya, peningkatan populasi harus berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas bibit dan produktivitas ternak.
Ketersediaan pakan juga menjadi faktor penting. Sebab, produktivitas sapi perah sangat berkaitan dengan kecukupan pakan yang berkualitas dan berkelanjutan.
UPT PT dan HMT Batu memiliki lahan sekitar 13 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 9,5 hektare telah dimanfaatkan, dengan rincian sekitar 2 hektare untuk bangunan dan 7 hektare sebagai lahan hijauan makanan ternak.
Salah satu tanaman yang dikembangkan ialah rumput gajah. Selain memenuhi kebutuhan pakan sapi, lahan tersebut dimanfaatkan untuk menyediakan bibit atau stek rumput gajah yang dapat dikembangkan lebih luas.
Kebutuhan hijauan makanan ternak bagi sapi yang dikelola UPT mencapai sekitar 1.300 ton per tahun.
UPT PT dan HMT Batu tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembibitan dan budidaya ternak. Unit ini juga menjadi lokasi praktik siswa dan mahasiswa serta sarana penelitian bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Peternakan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Secara kelembagaan, UPT tersebut menjalankan sebagian tugas teknis Dinas Peternakan Jatim dalam pembibitan, pemuliabiakan, budidaya ternak, serta pengembangan hijauan makanan ternak bagi masyarakat.
Fasilitas yang tersedia meliputi gedung kantor, laboratorium susu, kamar susu, cooling room, dan kandang sapi perah berkapasitas sekitar 100 sapi dewasa.
Khofifah berharap pengembangan UPT Batu dapat terus diperluas, bukan hanya dari sisi jumlah ternak, tetapi juga produktivitas dan kualitas pengelolaannya.
“Jadi kita berharap bahwa pengembangan peternakan, khususnya sapi perah, bisa terus kita tingkatkan. Tidak hanya dari sisi populasi, tetapi juga produktivitas dan kualitas bibit serta pakan ternaknya,” pungkasnya. (BS/za)









