Bicarasurabaya.com – Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur menggelar pelatihan dan pendampingan pemasaran digital bagi kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di lingkungan Muhammadiyah Wonorejo, Surabaya.
Kegiatan yang diikuti 15 pelaku UMKM tersebut difokuskan pada peningkatan kemampuan pemasaran digital, penguatan branding produk, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana memperluas jangkauan pasar. Mayoritas peserta merupakan ibu-ibu yang menjalankan usaha rumahan di sektor makanan dan minuman.
Ketua Kelompok, Aldiana Husna Azisah, mengatakan kegiatan tersebut disusun setelah mahasiswa melakukan identifikasi terhadap kondisi dan kebutuhan pelaku UMKM di lokasi pendampingan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, sebagian pelaku usaha masih mengandalkan pemasaran konvensional melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Di sisi lain, kemampuan dalam membuat desain kemasan, materi promosi, serta memanfaatkan media sosial untuk mendukung pemasaran juga masih terbatas.
“Dari pengamatan awal kami, produk yang dihasilkan ibu-ibu UMKM sebenarnya memiliki potensi yang baik. Namun, pemasaran masih banyak mengandalkan lingkungan sekitar dan dari mulut ke mulut. Selain itu, masih ada keterbatasan dalam membuat desain kemasan maupun materi promosi yang menarik,” kata Aldiana.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa kemudian menyusun program pendampingan pemasaran digital dan branding yang mengedepankan praktik langsung. Peserta diperkenalkan dengan aplikasi Canva untuk membuat desain visual sekaligus diberikan pemahaman dasar mengenai pemanfaatan Instagram sebagai media promosi.
Aldiana menjelaskan, pendampingan dilakukan secara bertahap agar dapat diikuti peserta dengan tingkat kemampuan digital yang beragam.
“Kami mulai dari hal yang paling dasar, seperti mengunduh Canva, mengenali menu dan fitur, memilih templat, memasukkan foto produk, menambahkan tulisan, hingga membuat desain promosi yang lebih komunikatif,” ujarnya.
Menurut dia, penggunaan Canva dipilih karena relatif mudah diakses melalui telepon pintar dan dapat digunakan pelaku UMKM untuk membuat kebutuhan promosi secara mandiri.
Setelah mendapatkan materi desain, peserta juga diperkenalkan dengan pengelolaan konten melalui Instagram. Materi mencakup pemanfaatan media sosial untuk menampilkan produk, menyusun materi promosi, dan memperluas jangkauan pemasaran di luar konsumen yang selama ini telah mereka miliki.
“Setelah peserta memahami dasar desain, kami lanjutkan dengan bagaimana hasil desain itu dapat digunakan untuk promosi melalui Instagram. Kami ingin peserta memahami bahwa telepon pintar yang mereka gunakan sehari-hari sebenarnya juga dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan usaha,” jelas Aldiana.
Pelatihan menggunakan pendekatan partisipatif dengan mengombinasikan sosialisasi interaktif dan praktik langsung atau hands-on tutorial. Para peserta menggunakan gawai masing-masing selama kegiatan sehingga materi yang diterima dapat langsung dipraktikkan.
Selain pelatihan teknis, mahasiswa menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari proses evaluasi. FGD digunakan untuk mengetahui pengalaman peserta selama kegiatan sekaligus menggali kendala yang masih dihadapi dalam proses digitalisasi usaha.
“Melalui FGD, kami ingin mendengarkan secara langsung kebutuhan dan kesulitan yang masih dialami peserta. Kami juga ingin mengetahui sejauh mana materi yang diberikan dapat dipahami dan diterapkan dalam usaha mereka,” tutur Aldiana.
Evaluasi juga dilakukan melalui observasi terhadap hasil desain yang dibuat peserta. Dari kegiatan tersebut, peserta menunjukkan perkembangan dalam menggunakan Canva, menyusun materi visual sederhana, serta memahami tahapan dasar publikasi konten melalui Instagram.
Antusiasme peserta, kata Aldiana, terlihat selama proses pendampingan. Para pelaku UMKM tidak hanya mengikuti penyampaian materi, tetapi turut mencoba secara langsung berbagai fitur aplikasi menggunakan telepon pintar mereka.
“Ada peserta yang sebelumnya belum pernah membuat desain promosi sendiri, kemudian mulai bisa menyusun materi untuk produknya. Bagi kami, kemampuan seperti ini penting karena dapat terus digunakan setelah kegiatan selesai,” katanya.
Aldiana menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan arahan Drs. Saifuddin Zuhri, M.Si. selaku dosen yang memberikan pendampingan kepada mahasiswa. Sejak tahap perencanaan, mahasiswa diarahkan agar program yang dilakukan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan pelaku UMKM.
“Bapak Saifuddin Zuhri mengarahkan kami sejak awal agar kegiatan tidak sekadar memberikan sosialisasi. Harus ada keterampilan konkret yang diperoleh peserta dan dapat mereka praktikkan setelah kegiatan selesai,” ungkap Aldiana.
Atas arahan tersebut, mahasiswa mengombinasikan proses identifikasi masalah, sosialisasi, praktik langsung, observasi, serta FGD dalam satu rangkaian pendampingan.
Program tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM Muhammadiyah Wonorejo beradaptasi dengan perkembangan pemasaran digital. Peningkatan kemampuan membuat materi promosi dan memanfaatkan media sosial dinilai dapat memperkuat citra produk sekaligus membuka peluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Kemampuan tersebut juga diharapkan dapat menjadi modal bagi pelaku usaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap pola pemasaran konvensional serta meningkatkan kemandirian dalam mempromosikan produk mereka.
“Harapan kami, keterampilan yang sudah dipelajari dapat terus digunakan. Canva dan Instagram tidak hanya digunakan ketika pelatihan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari strategi pemasaran usaha sehingga produk mereka semakin dikenal dan usahanya dapat berkembang,” pungkasnya. (Penulis: Drs. Saifuddin Zuhri, M.Si.)








