Bicarasurabaya.com – Ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Triwulan I 2026. Capaian itu menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa sekaligus melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut pertumbuhan tersebut menunjukkan daya tahan sekaligus akselerasi ekonomi Jatim masih terjaga di berbagai sektor strategis.
“Di tengah tantangan global yang masih dinamis, ekonomi Jawa Timur mampu tumbuh tertinggi se-Jawa dan melampaui nasional,” kata Khofifah di Surabaya, Kamis (7/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain tumbuh secara tahunan, ekonomi Jatim juga meningkat 1,25 persen dibandingkan triwulan sebelumnya atau quarter-to-quarter (q-to-q).
Struktur ekonomi Jawa Timur masih ditopang sektor industri pengolahan dengan kontribusi 31,45 persen. Disusul sektor perdagangan sebesar 18,77 persen dan pertanian sebesar 10,51 persen.
Jawa Timur juga tercatat menjadi kontributor terbesar kedua terhadap ekonomi Pulau Jawa setelah DKI Jakarta dengan sumbangan 25,16 persen. Sementara terhadap ekonomi nasional, kontribusi Jatim mencapai 14,40 persen.
Berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor jasa lainnya yang tumbuh 13,44 persen. Kenaikan itu didorong meningkatnya aktivitas rekreasi dan pariwisata sepanjang awal 2026.
Selain itu, sektor akomodasi serta makan dan minum turut mencatat pertumbuhan signifikan. Salah satu pendorongnya berasal dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,33 persen. Kondisi itu dipicu meningkatnya realisasi belanja pegawai, termasuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) ASN 2026 serta belanja barang dan jasa kepada masyarakat.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Pemprov Jatim terus memperkuat pengendalian inflasi dan menjaga daya beli masyarakat melalui pasar murah serta stabilisasi pasokan pangan.
Di sisi lain, Pemprov juga memperluas perdagangan antardaerah dan ekspor lewat program misi dagang dan investasi.
Sepanjang 2025, misi dagang Pemprov Jatim di 12 provinsi mencatat transaksi mencapai Rp16,30 triliun. Memasuki 2026, transaksi misi dagang di Jawa Tengah mencapai Rp3,15 triliun dan DKI Jakarta sebesar Rp5,74 triliun. Sementara potensi transaksi misi dagang ke Malaysia tercatat Rp15,25 triliun.
“Misi dagang menjadi instrumen penting untuk memperkuat perdagangan antardaerah sekaligus memperluas pasar produk Jawa Timur,” ujar Khofifah.
Ia menegaskan capaian pertumbuhan ekonomi Jatim merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam menjaga stabilitas dan kondusivitas daerah.
“Kolaborasi semua pihak menjadi kekuatan agar Jawa Timur tetap aman, produktif, dan mampu tumbuh di tengah tantangan global,” pungkasnya.(BS/za)











