Bicarasurabaya.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong transformasi Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) berbasis enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk mendekatkan layanan dasar ke masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan bertepatan dengan Hari Posyandu Nasional, Rabu (29/4/2026).
Khofifah menegaskan, Posyandu kini tidak lagi sebatas layanan kesehatan, tetapi berkembang menjadi pusat layanan terpadu di tingkat desa dan kelurahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Posyandu adalah garda terdepan pelayanan masyarakat. Melalui transformasi 6 SPM, layanan menjadi lebih luas dan menyentuh berbagai aspek kehidupan,” ujarnya.
Enam bidang layanan yang diintegrasikan meliputi kesehatan, pendidikan, sosial, pekerjaan umum, perumahan rakyat, serta ketenteraman dan ketertiban umum.
Menurut Khofifah, pendekatan ini membuat masyarakat lebih mudah mengakses layanan dasar tanpa harus pergi jauh. Posyandu juga diharapkan menjadi pusat pelayanan yang cepat, responsif, dan berbasis gotong royong.
Di Jawa Timur, peran Posyandu dinilai signifikan. Tercatat ada 46.414 Posyandu dengan dukungan 301.013 kader yang tersebar di berbagai wilayah.
Selain meningkatkan akses layanan, Posyandu juga dinilai menjadi sarana pemberdayaan masyarakat, mulai dari menyalurkan aspirasi hingga mendorong pembangunan desa secara partisipatif.
Khofifah menekankan, keberhasilan transformasi ini bergantung pada kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi peran kader Posyandu yang menjadi ujung tombak di lapangan.
“Peran kader sangat penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Pemprov Jatim menargetkan penguatan Posyandu sebagai pilar pembangunan berbasis komunitas, sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Transformasi ini diharapkan menjadi langkah strategis menuju masyarakat yang lebih sehat, sejahtera, dan berdaya saing.(BS/za)









