Bicarasurabaya.com – Keterbatasan cadangan bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan krisis global menjadi peringatan bagi ketahanan energi nasional. Di sisi lain, upaya pengembangan energi alternatif dinilai masih perlu dipercepat untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, riset energi berkelanjutan mulai diarahkan pada pemanfaatan potensi lokal hingga integrasi berbagai sumber energi baru terbarukan.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, menilai ketahanan energi tidak cukup hanya mengandalkan cadangan, tetapi juga kemampuan mengembangkan sumber alternatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ketahanan energi tidak hanya soal ketersediaan, tapi bagaimana kita mengembangkan energi berbasis potensi lokal,” ujarnya dalam keterangannya yang diterima, Senin (6/4/2026).
Salah satu riset yang dikembangkan adalah konversi crude palm oil (CPO) menjadi bensin biogasolin atau “Benwit”. Inovasi ini menjadi upaya memanfaatkan sumber daya domestik sebagai bahan bakar alternatif.
Selain itu, ITS juga membangun fasilitas Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI), yang mengintegrasikan berbagai sumber energi seperti tenaga surya, biomassa, hingga hidrogen dalam satu sistem.
Fasilitas ini tidak hanya difokuskan pada riset, tetapi juga pengujian dalam skala nyata. “Implementasi menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium,” kata Taufany.
Pengembangan energi juga dilakukan di wilayah pesisir melalui proyek Solar2Wave, berupa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung nearshore. Model ini dinilai bisa menjadi solusi untuk memperluas akses energi bersih di daerah dengan keterbatasan infrastruktur.
Di sisi lain, ITS juga mendorong diversifikasi energi melalui pengembangan bioetanol, kendaraan listrik, hingga teknologi hydrogen fuel cell. Upaya ini sejalan dengan kebutuhan transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan efisien.
Namun, tantangan tetap ada. Pengembangan teknologi dinilai perlu diikuti dengan dukungan kebijakan dan kesiapan industri agar dapat diimplementasikan secara luas.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri menjadi kunci agar inovasi bisa diterapkan,” ujarnya.
Selain riset, ITS juga mulai masuk ke tahap implementasi melalui layanan konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik berbasis baterai. Program ini berjalan sejak 2022 dan menyasar berbagai jenis kendaraan roda dua.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan arah pengembangan energi yang mulai bergeser. Di tengah tekanan global terhadap BBM, inovasi berbasis riset menjadi salah satu opsi untuk memperkuat ketahanan energi nasional, meski implementasinya masih membutuhkan waktu dan dukungan lintas sektor.(BS/za)











