SMK Jatim Catat Serapan Tinggi, Masa Tunggu Kerja Hanya 3 Bulan

- Publisher

Senin, 11 Mei 2026 - 16:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Khofifah mengklaim lulusan SMK di Jatim lebih banyak terserap hingga mencapai 91 persen. (Foto: dok Humas Pemprov Jatim)

i

Khofifah mengklaim lulusan SMK di Jatim lebih banyak terserap hingga mencapai 91 persen. (Foto: dok Humas Pemprov Jatim)

Bicarasurabaya.com – Tingkat keterserapan lulusan SMK di Jawa Timur terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 91,46 persen lulusan SMK Jatim telah masuk dalam program BMW atau Bekerja, Melanjutkan pendidikan, dan Wirausaha.

Dari total 221.174 lulusan SMK di Jawa Timur, sebanyak 195.429 lulusan tercatat telah bekerja, berwirausaha, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Rinciannya, sebanyak 55,83 persen lulusan telah bekerja, 20,79 persen memilih berwirausaha, dan 14,84 persen melanjutkan pendidikan. Sementara angka pengangguran lulusan SMK di Jawa Timur tercatat hanya 1,49 persen.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian tersebut menjadi indikator bahwa hubungan antara sekolah dan dunia industri semakin kuat.

“Ini menunjukkan penguatan link and match antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri berjalan semakin efektif,” kata Khofifah di Surabaya, Senin (11/5/2026).

Baca Juga:  169 Ribu KK Tak Terverifikasi, Surabaya Minta Warga Segera Perbarui Adminduk

Tak hanya tingkat serapan kerja yang tinggi, kesesuaian pekerjaan lulusan dengan bidang keahlian juga mencapai 69,43 persen. Rata-rata lulusan SMK di Jatim hanya membutuhkan waktu sekitar 3,38 bulan untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus.

Selain itu, sebanyak 63,57 persen lulusan juga telah mengantongi sertifikat kompetensi keahlian sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Menurut Khofifah, kebutuhan industri saat ini terus berubah seiring perkembangan teknologi dan otomatisasi industri 4.0. Karena itu, pendidikan vokasi dituntut lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar kerja.

“Kebutuhan industri berkembang sangat cepat. Karena itu pendidikan vokasi harus responsif terhadap perubahan dunia kerja,” ujarnya.

Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, terus memperkuat program Teaching Factory (TeFa) di SMK negeri maupun swasta. Saat ini terdapat 298 SMK negeri dan 1.860 SMK swasta di Jawa Timur yang diwajibkan memiliki Teaching Factory di setiap jurusan.

Baca Juga:  Normalisasi Saluran dan Fungsi Jalan, PKL dan Truk Parkir di Dua Ruas Jalan Ditertibakan Satpol PP

Program tersebut dinilai penting untuk membentuk budaya kerja industri sejak di lingkungan sekolah, mulai dari disiplin, standar mutu, hingga ritme kerja.

Selain itu, Pemprov Jatim juga menjalankan program retooling atau peningkatan kompetensi bagi lulusan yang masih menunggu panggilan kerja dari industri.

“Sembari menunggu panggilan industri, kompetensi mereka terus diasah agar sesuai kebutuhan pasar kerja,” kata Khofifah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai mengatakan berbagai program terus diperkuat agar lulusan SMK tidak menjadi penyumbang angka pengangguran terbuka.

Menurut Aries, penguatan dilakukan melalui Teaching Factory, sertifikasi kompetensi gratis, Bursa Kerja Khusus (BKK), hingga kerja sama sekolah dengan dunia usaha dan industri.

Baca Juga:  26 SMA-SMK-SLB di Kediri Direvitalisasi, Khofifah Tekankan Mutu Pendidikan

Dindik Jatim juga mendorong program magang luar negeri bagi siswa SMK. Tercatat sebanyak 3.186 siswa kelas 12 dan 13 diusulkan mengikuti program magang kerja luar negeri, sementara 1.734 lulusan siap diberangkatkan sebagai pekerja migran profesional.

“Program ini menjadi upaya meningkatkan keterserapan lulusan sesuai kebutuhan industri, baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Aries.

Berdasarkan data Pemprov Jatim, bidang dengan tingkat lulusan bekerja tertinggi berasal dari sektor Energi dan Pertambangan, Teknologi dan Rekayasa, Bisnis dan Manajemen, serta Pariwisata.

Sementara bidang Agribisnis, Kemaritiman, dan Teknologi Informasi menjadi sektor dengan tingkat lulusan wirausaha tertinggi. Sedangkan lulusan yang paling banyak melanjutkan pendidikan berasal dari bidang Kesehatan, Teknologi Informasi, dan Seni Kreatif.(BS/za)

Berita Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram
Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo
Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan
Penyelundupan Sabu dalam Ayam Goreng ke Lapas Surabaya Digagalkan
Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya
Tempong Sri Dewi Minta Maaf Usai Ledakan LPG di San Antonio Surabaya
Dampak Ledakan Pakuwon City Capai Radius 50 Meter, Puluhan Bangunan Rusak
5 Korban Ledakan Pakuwon City Dirawat, 2 Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:02 WIB

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Penyelundupan Sabu dalam Ayam Goreng ke Lapas Surabaya Digagalkan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi Harga Emas Naik/bs

Bicara Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Okt 2026 - 10:00 WIB

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB