Tak Perlu ke Luar Negeri! Program Medical Tourism Surabaya Siap Layani Pasien Domestik hingga Internasional

- Publisher

Kamis, 23 April 2026 - 18:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Eri Cahyadi Launching Medical Tourism/dok.Diskominfo Surabaya

i

Wali Kota Eri Cahyadi Launching Medical Tourism/dok.Diskominfo Surabaya

Bicarasurabaya.com – Kota Surabaya resmi meluncurkan program medical tourism atau wisata medis sebagai alternatif layanan kesehatan terintegrasi bagi masyarakat Indonesia tanpa harus berobat ke luar negeri. Program ini menghadirkan paket layanan komprehensif yang mencakup konsultasi, penjemputan dari bandara, tindakan medis seperti medical check-up (MCU) atau operasi, hingga wisata pemulihan.

Peluncuran medical tourism tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 yang digelar di Halaman Balai Kota Surabaya, Selasa (21/4/2026). Program ini mengintegrasikan delapan rumah sakit di Kota Pahlawan yang telah mengantongi sertifikasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyampaikan kehadiran medical tourism menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Surabaya sebagai kota tujuan layanan kesehatan. Ia menekankan fasilitas medis di Surabaya telah mampu mengakomodasi berbagai jenis pengobatan yang selama ini banyak dicari masyarakat di luar negeri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Alhamdulillah medical tourism di Surabaya di-launching. Ada delapan rumah sakit yang sudah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Kesehatan,” ujar Wali Kota Eri.

Ia menjelaskan, konsep medical tourism di Surabaya tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi juga terintegrasi dengan sektor pariwisata melalui kolaborasi dengan biro perjalanan. Skema ini memungkinkan pasien mendapatkan layanan mulai dari penjemputan di bandara, perawatan di rumah sakit, hingga akomodasi hotel dalam satu paket layanan terpadu.

“Kita juga kolaborasi dengan biro perjalanan wisata. Sehingga kalau orang ingin berobat di medical tourism Surabaya, tinggal dia memilih, maka dia nanti akan dijemput dari bandara menuju ke rumah sakit,” katanya.

Baca Juga:  Dongkrak IPM, Pemkot Surabaya Sediakan Berbagai Layanan Literasi

Menurutnya, keberadaan sejumlah rumah sakit besar di Surabaya menunjukkan bahwa kota ini mampu menyediakan layanan medis yang setara dengan luar negeri. Karenanya, ia optimistis program medical tourism akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk berobat di dalam negeri. “Surabaya ini akan menjadi bagian dari kota untuk (layanan) kesehatan. Ini nanti akan kami masifkan (promosi) ke manapun,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Wali Kota Eri menyebut bahwa masing-masing rumah sakit itu memiliki layanan unggulan yang berbeda, mulai dari jantung, terapi, hingga layanan kesehatan anak. Ke depan, ia berharap lebih banyak lagi rumah sakit di Surabaya yang memperoleh sertifikasi serupa agar pilihan layanan semakin beragam.

“Delapan rumah sakit punya layanan unggulan masing-masing. Ada jantung, ada yang terkait dengan terapi, ada yang terkait dengan anak, jadi punya unggulan masing-masing,” paparnya.

Wali Kota Eri Cahyadi bersama berbagai stakeholder Launching Medical Tourism/dok.Diskominfo Surabaya
Wali Kota Eri Cahyadi bersama berbagai stakeholder Launching Medical Tourism/dok.Diskominfo Surabaya

Bahkan, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ini juga mengungkap sejumlah rumah sakit di Surabaya telah melayani pasien dari luar negeri. Baginya, hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan internasional terhadap kualitas layanan kesehatan di Kota Pahlawan.

“Kalau kita lihat dokter-dokter yang ada di Surabaya juga luar biasa. Semoga ini bisa memberikan kepercayaan kepada warga Indonesia, tidak ke luar negeri tapi cukup datang ke Indonesia khususnya di Kota Surabaya,” ujar dia.

Terkait kebutuhan tenaga medis, khususnya dokter spesialis, Wali Kota Eri memastikan delapan rumah sakit tersebut telah menyesuaikan dengan standar yang dipersyaratkan Kemenkes untuk masuk dalam program medical tourism.

Baca Juga:  Koneksikan Saluran dengan Riol Belanda

“Kalau sudah masuk ke medical tourism, maka kebutuhan rumah sakit terhadap dokter spesialisnya pasti terpenuhi. Karena kalau dokter spesialisnya tidak terpenuhi, maka tidak mungkin mendapatkan sertifikat medical tourism,” tuturnya.

Wali Kota Eri pun menargetkan jumlah pasien medical tourism bisa mencapai 500 hingga 1.000 orang dalam beberapa bulan pertama pelaksanaan. Target tersebut dinilai realistis mengingat tingginya minat pasien dari Indonesia Timur hingga luar negeri yang datang ke Kota Surabaya.

“Jadi ini target yang ditentukan. 500 sampai dengan 1000 orang yang ada (datang) di Kota Surabaya, kita lihat dari beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Untuk mendukung pencapaian target tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan menggencarkan promosi melalui berbagai moda transportasi. Seperti melalui pesawat, kereta api, hingga kapal laut, dengan menonjolkan keunggulan layanan medis dan dokter spesialis di masing-masing rumah sakit.

“Kita bisa melihat sudah banyak dari Indonesia Timur, dari internasional, dari luar negeri, yang datang ke Surabaya. Maka, promosi itu kita genjot lagi dengan kelebihan dan kemampuan dari masing-masing dokter dan pelayanan unggulan di masing-masing rumah sakit,” jelasnya.

Salah satu alat medis yang dimiliki oleh RSUD Dr. Soewandhie/dok.Diskominfo Surabaya
Salah satu alat medis yang dimiliki oleh RSUD Dr. Soewandhie/dok.Diskominfo Surabaya

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan konsep medical tourism menggabungkan layanan kesehatan dengan wisata dalam satu paket harga. Pasien akan mendapatkan perawatan medis, sementara keluarga yang mendampingi dapat menikmati fasilitas wisata.

“Prinsipnya kan pelayanan dengan wisata. Jadi garis besarnya yang sakit kita rawat, keluarga yang tidak sakit mungkin mau ke mana-ke mana kita bisa layani,” ujar dr Billy.

Baca Juga:  Pertama di Indonesia, Surabaya Raih Rekor MURI Lewat Penyuluhan TBC Terbanyak

Ia mencontohkan pengalaman penanganan pasien dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. Pasien tersebut dilayani mulai dari penjemputan di Bandara Juanda menggunakan ambulans hingga perawatan di rumah sakit sampai sembuh.

“Mulai dari sana mereka terbang, jemput di Juanda dengan ambulans kita. Dari situ kita langsung bawa ke rumah sakit (dirawat) sudah, sampai sembuh baru pulang lagi dia,” jelas dr Billy.

Terkait biaya, Billy menyebutkan bahwa layanan medical tourism di Surabaya relatif lebih terjangkau dibandingkan negara lain seperti Malaysia dan Singapura. Sebab, biaya tersebut mengacu pada regulasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya. “Kalau dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura, kita jauh lebih murah,” katanya.

Ia memperkirakan biaya layanan di rumah sakit Surabaya hanya sekitar 75 persen dibandingkan biaya berobat di Malaysia atau Singapura. “Perbandingannya jika di sana 100 persen, di sini mungkin hanya 75 persen. Jadi bisa hemat sekitar 25 persen,” paparnya.

Adapun delapan rumah sakit yang tergabung dalam program medical tourism Surabaya meliputi RSUD Dr. Mohamad Soewandhie, Rumah Sakit Husada Utama, Rumah Sakit Ubaya, Rumah Sakit Premier Surabaya, RSUD Dr. Soetomo, Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR), dan Rumah Sakit Siloam.

Masing-masing rumah sakit tersebut menawarkan berbagai layanan unggulan. Seperti di antaranya, onkologi, penggantian sendi lutut (Total Knee Replacement), bayi tabung, hemodialisa, radiologi, bedah saraf, imunoterapi, bedah jantung, rekonstruksi kraniofasial, hingga layanan pengobatan tradisional dan komplementer. (ADV)

Berita Terkait

Kolaborasi Pemkot Surabaya, Kejati Jatim dan BPN Berhasil Selamatkan Aset Senilai Rp1 Triliun
Lomba Kampung Pancasila Surabaya 2026 Dimulai, 1.360 RW Menuju 200 Besar dan 35 Terbaik
Aset Rp124 Miliar Kembali ke Pemkot Surabaya, Disiapkan untuk Dongkrak Ekonomi dan Kesejahteraan Warga
Program Pisang Danor Jadi Strategi Surabaya Kurangi Sampah dan Tekan Biaya TPA
SGE 2026 Catat Transaksi Rp7,75 Miliar, UMKM Surabaya Bidik Pasar Lebih Luas
Raih Dua Penghargaan Nasional, Surabaya Buktikan Satu Data NIK Pacu Pertumbuhan Ekonomi
Sukses Tekan Bansos Salah Sasaran, Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya Hampir 100 Persen
Peringatan HAN 2026, Pemerintah Pusat Apresiasi Komitmen Surabaya Penuhi Hak dan Lindungi Anak
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 12:30 WIB

Kolaborasi Pemkot Surabaya, Kejati Jatim dan BPN Berhasil Selamatkan Aset Senilai Rp1 Triliun

Senin, 21 September 2026 - 13:25 WIB

Lomba Kampung Pancasila Surabaya 2026 Dimulai, 1.360 RW Menuju 200 Besar dan 35 Terbaik

Rabu, 9 September 2026 - 19:16 WIB

Aset Rp124 Miliar Kembali ke Pemkot Surabaya, Disiapkan untuk Dongkrak Ekonomi dan Kesejahteraan Warga

Jumat, 21 Agustus 2026 - 20:16 WIB

Program Pisang Danor Jadi Strategi Surabaya Kurangi Sampah dan Tekan Biaya TPA

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:44 WIB

SGE 2026 Catat Transaksi Rp7,75 Miliar, UMKM Surabaya Bidik Pasar Lebih Luas

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi Harga Emas Naik/bs

Bicara Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Okt 2026 - 10:00 WIB

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB