Bicarasurabaya.com – Inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) Kota Surabaya pada Februari 2026 tercatat 5,11 persen. Angka ini dipengaruhi sejumlah komoditas, terutama emas dan tarif angkutan udara, yang memberi kontribusi cukup besar terhadap kenaikan inflasi.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, mengatakan secara tahunan inflasi Surabaya memang berada di atas lima persen. Namun kondisi tersebut masih sejalan dengan tren inflasi di tingkat provinsi maupun nasional.
“Secara year on year Surabaya berada di angka 5,11 persen. Tapi di tingkat provinsi maupun nasional juga mengalami kenaikan,” ujar Vykka, Jumat (13/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, jika dilihat dari indikator year to date (y-to-d) atau inflasi sejak awal tahun, kondisinya masih relatif terkendali. Inflasi Surabaya dari Januari hingga Februari 2026 tercatat 0,83 persen, sehingga masih dinilai dalam batas aman.
Untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan, berbagai program intervensi pasar terus digencarkan. Beberapa di antaranya Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, hingga inspeksi mendadak ke pasar tradisional dan distributor.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika harga.
Menurut Vykka, inflasi tidak hanya dipengaruhi harga bahan pokok. Sejumlah komoditas lain seperti emas dan transportasi udara juga memberi dampak besar terhadap pergerakan inflasi.
“Kontributor terbesar inflasi di Surabaya justru emas dan angkutan udara. Pada Januari–Februari, angkutan udara cukup dominan,” katanya.
Ia memperkirakan tarif penerbangan masih berpotensi menjadi penyumbang inflasi pada periode Lebaran 2026 karena meningkatnya permintaan perjalanan masyarakat.
Di sektor bahan pokok, komoditas yang mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir adalah cabai. Kondisi ini dipicu faktor cuaca, terutama musim hujan yang memengaruhi produksi dan distribusi.
“Cabai sudah naik sejak tiga sampai empat bulan terakhir karena musim hujan,” jelas Vykka.
Untuk menekan harga, pemerintah kota bekerja sama dengan Pasar Induk Surabaya Sidotopo (PISS) dalam pelaksanaan Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah. Melalui program tersebut, cabai dijual dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
Selain cabai, pemerintah kota juga memantau pergerakan harga beras premium yang permintaannya cukup tinggi. Saat ini harga beras premium di pasar Surabaya masih relatif stabil di kisaran Rp16.000 per kilogram.
Untuk menjaga keterjangkauan harga, pemerintah bekerja sama dengan Bulog melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
“Beras premium memang tidak memiliki harga eceran tertinggi, tapi rata-rata masih di sekitar Rp16 ribu per kilogram. Untuk beras SPHP sudah ada HET yang ditetapkan,” kata Vykka.
Pemantauan harga pangan akan terus dilakukan, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri, saat kebutuhan masyarakat biasanya meningkat. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan pasokan pangan tetap aman.(BS/za)











