Menengok Risma dan Kapolres Beradu Akting dalam Resolusi Jihad

Risma saat main drama kolosal/Ist

Bicarasurabaya.com- Suara merdu lagu berjudul Indonesia Pusaka yang diiringi tari-tarian menjadi tanda dibukanya pertunjukkan Drama Resolusi Jihad. Disusul adegan pertama dengan latar Tarian Suhada menggempurkan suasana Halaman Tugu Pahlawan, Kamis (22/10/2020) malam.

Teriakan lantang dialog “Merdeka, merdeka” semakin membakar semangat para pemain bahkan penonton pun turut merasakannya.

Suasana mulai menegang, ketika sosok Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Eddison  berperan sebagai M Yasin dan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Ganis Setyaningrum, Pimpinan Laskar Putri memasuki area panggung secara tiba-tiba.  Dalam adegannya, M Yasin, bersama ajudannya menurunkan bendera Jepang dan mengganti dengan bendera Sang Merah Putih pertama kalinya di Surabaya.

Semakin seru dan haru, ketika memasuki adegan keempat. Saat itu dari bangku penonton, Wali Kota Risma berperan sebagai Mbok Dar datang dengan latar Dapur Umum. Di sana Wali Kota Risma terlihat begitu mendalami peran dan menguasai isi panggung.

Baca Juga:  Pertama di Indonesia, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Siap Beroperasi di Surabaya

Sesekali ia mengeluarkan candaan tawanya berbahasa jawa, tapi tak jarang pula memberikan nasehat kepada para pejuang untuk untuk tetap penuh semangat menjaga dan menegakkan kemerdekaan.

Awakmu kabeh, nek kalah jihad tak tembak lho, ayo kudu menang gak oleh mundur (Kalian semua, kalau kalian kalah jihad saya tembak lho. Ayo harus menang tidak boleh mundur),” ungkap Wali kota Risma memberikan semangat.

Di sela-sela pertunjukkan, Wali Kota Risma juga memimpin pembacaan doa sebelum pasukan berangkat berjihad. Ia pun juga mengobarkan semangat yang membara untuk pantang mundur. “Ayo dungo sing akeh sakdurunge budal jihad (Mari berdoa yang banyak sebelum berangkat jihad,” teriaknya.

Baca Juga:  Hari Sumpah Pemuda, Wali Kota Risma Ajak Memahami Arti Perbedaan

Setelah Mbok Dar pamit dan meninggalkan panggung, Komandan Korem 084 yang berperan sebagai Bung Tomo bersama para pejuang lainnya memasuki panggung dan dilanjut adegan berikutnya.

Di kesempatan yang sama, Presiden UCLG ASPAC ini menambahkan, tujuan dari serangkaian Parade Seni dan Budaya Surabaya merupakan salah satu alternatif yang diberikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, kepada para pekerja seni lantaran terkena dampak ekonomi dari pandemi Covid-19. Hal itu tercetus oleh Wali Kota Risma saat dirinya memikirkan dari mana penghasilan dan bagaimana mereka agar tetap produktif.

Baca Juga:  Beri Pesan ke Warga, Risma Beradu Akting Main Ludruk Bareng Cak Kartolo

“Itu salah stau alasannya. Lalu di sini, kami Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tampil secara khusus untuk menghibur warga Surabaya,” kata Wali Kota Risma.

Menurutnya, saat pandemi melanda di seluruh dunia termasuk Surabaya, saat itu pula banyak sekali permasalahan bukan hanya menyelesaikan penyakit. Tapi dampak lainnya adalah semakin memburuk kondisi perekonomian. Oleh sebab itu, Wali Kota Risma mengeluarkan berbagai inovasi dan ide agar para seniman tetap dapat berkarya.

“Meskipun saat ini sudah jauh lebih baik, tetapi para seniman belum. Sehingga itu salah satu alasannya menggelar pertunjukkan virtual ini. Akhirnya terkemaslah menjadi sebuah pertunjukkan yang kami gelar sampai dengan Desember mendatang,” pungkas. (BS01)