Ketua DKPP Harap Media Massa Tebarkan Efek Jera Dari Pelanggaran Kode Etik

Ketua DKPP Prof. Muhammad saat kegiatan Ngobrol Etika Penyelenggara Pemilu dengan Media (Ngetren Media) /Ist
Ketua DKPP Prof. Muhammad (tengah) saat kegiatan Ngobrol Etika Penyelenggara Pemilu dengan Media (Ngetren Media) /Ist

Bicarasurabaya.com – Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Prof. Muhammad berharap agar insan pers tidak hanya memberitakan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu dari permukaan saja.

“Kalau cuma mengutip jadwal sidang, jadwal putusan, itu bisa dilihat di website DKPP,” kata Prof. Muhammad dalam kegiatan Ngobrol Etika Penyelenggara Pemilu dengan Media (Ngetren Media) di Kota Surabaya, Kamis (22/10/2020).

Dalam kesempatan tersebut, Ketua DKPP mengajak media massa untuk turut mengedukasi masyarakat tentang kode etik penyelenggara pemilu. Menurutnya, hal ini sangat penting bagi perkembangan demokrasi Indonesia.

Baca Juga:  Nama-nama ASN Disebut Jadi Timses Eri-Armuji, Pemkot Tegaskan Itu Hoax

“Kita berharap akan berimbas pada penyelenggara pemilu, KPU Bawaslu selalu diingatkan dari berita teman-teman, bahwa ada sahabat anda yang diberikan sanksi x karena melakukan x,” jelasnya.

Pria kelahiran Makassar ini menyatakan, selama ini media massa memang sudah banyak memberitakan tentang amar-amar putusan yang dibacakan DKPP. Namun, hal yang sangat edukatif bagi dia justru berada pada latar belakang dari amar putusan DKPP.

“Why? Kenapa dia bisa dipecat? Amar itu hanyalah gongnya,” ujar Prof Muhammad.

Baca Juga:  Diundang Komunitas Buddhis, Armuji Berkomitmen Perhatikan Kaum Minoritas

Pihaknya pun berharap agar awak media di Surabaya mampu mengupas tentang pertimbangan putusan yang merupakan latar belakang dari amar putusan DKPP.

Dengan demikian, masyarakat dan khususnya penyelenggara pemilu di Surabaya dapat mengetahui putusan DKPP secara mendalam. Sehingga, pelanggaran-pelanggaran kode etik yang dilakukan penyelenggara pemilu pun dapat tereduksi.

“Surabaya adalah barometer Jawa Timur, sedangkan Jawa Timur adalah barometer bagi Indonesia. Jadi saya harap Surabaya dapat menjadi contoh bagi daerah lain,” pungkasnya. (BS02)