Kisah Nyata, Makan di Warung Gaib Kampus PTN Surabaya

Ilustrasi /net

BicaraSurabaya.com – Cerita ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh seorang jurnalis di Surabaya, tepatnya pada 10 tahun silam. Kala itu, sebut saja TS (43), yang masih menjadi jurnalis di salah satu perusahaan media cetak yang berbasis di Jakarta.

Kepada media ini, TS bercerita jika pernah memiliki pengalaman mistis saat berkesempatan mengikuti kegiatan spiritual salah satu komunitas klenik di Jawa Timur.

Komunitas ini biasa melakukan observasi ke tempat-tempat angker untuk melakukan penarikan benda-benda pusaka, seperti keris, hingga batu akik. Bahkan, komunitas ini juga melakukan observasi penampakan ke tempat-tempat angker.

Tepat di Hari Kamis malam, komunitas ini berencana melakukan penarikan benda pusaka yang berada di salah satu area Kampus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Surabaya.

Sebelum berangkat, anggota komunitas yang terdiri dari sepuluh orang itu kemudian membagi menjadi dua tim. Masing-masing tim ini beranggotakan lima orang. Tim pertama berangkat ke lokasi menggunakan mobil. Sementara TS bersama tim kedua menggunakan sepeda motor.

Sekitar pukul 24.00 malam, tibalah TS bersama komunitas ini di area lokasi salah satu Kampus PTN di Surabaya.

Malam pun semakin larut, hanya cahaya rembulan yang menerangi suasana tempat itu. Kala itu, bangunan masih belum mendominasi seperti sekarang. Hanya terlihat sebelah kiri dan kanan pepohonan serta ilalang. Bahkan, penerangan cahaya lampu masih sangat minim.

Tanpa membutuhkan waktu lama, komunitas ini langsung bergegas memulai ritual penarikan benda pusaka. Bunga tujuh rupa, dupa, hingga minyak apel jin mereka siapkan. Syarat-syarat itu pun ditata dan ditaruh di tempat yang sebelumnya sudah ditentukan.

Tak lama kemudian, benda pusaka berupa keris yang diinginkan akhirnya didapat. Karena tujuan sudah selesai, komunitas ini segera mengakhiri ritual dan bergegas meninggalkan lokasi penarikan benda pusaka.

Namun, setelah beberapa jengkal melangkah, mereka melihat adanya warung atau rumah makan yang tak jauh dari titik lokasi penarikan benda pusaka.

“Saat itu warung terlihat seperti warung makan zaman dulu. Tembok warung masih menggunakan bambu dengan atap yang terbuat dari ilalang. Sementara untuk penerangan menggunakan lampu templok,” kata TS kepada media ini.

Karena sebelum berangkat TS dan anggota komunitas belum sempat makan, salah satu di antara mereka, sebut saja Budi, langsung nyeletuk. “Eh.. ada warung, ayo kita makan dulu,” kata TS saat menirukan ucapan Budi, salah satu anggota komunitas klenik.

Namun, rekan anggota lain yang peka terhadap benda gaib langsung menjawabnya. “Warung setan itu,” kata salah satu anggota komunitas seperti ditirukan TS.

Beberapa anggota komunitas ini tidak serta merta percaya bahwa rumah makan itu adalah warung gaib atau warung jin. Sebab, warung itu jelas terlihat secara kasat mata oleh mereka semua.

Karena tidak mau ribut, akhirnya lima orang anggota yang tidak percaya bersama TS memutuskan untuk singgah sejenak dan makan di warung itu. Sementara yang lima orang lain, memilih untuk kembali pulang.

Pada awalnya, TS sempat heran, sebab warung itu kondisinya buka namun terlihat tidak ada yang menjaga. Bahkan, setelah beberapa kali dipanggil, namun tak kunjung juga terlihat pemilik warung itu.

Alangkah kagetnya, tiba-tiba saja muncul tepat di hadapan TS dan lima orang anggota komunitas seorang nenek tua dari balik meja. Nenek tua itupun spontan bertanya ke mereka. “Onok opo le? (Ada apa nak?),” tanya nenek tua itu, cerita TS

TS bersama lima orang itu dibuat kaget dengan kehadiran nenek atau pemilik warung yang spontan muncul. “Mbah jual nasi gak, mbah? (Nenek jual nasi tidak),” tanya TS kepada nenek pemilik warung.

Nenek tua itupun lantas menjawab. “Nasinya wes entek le, kari mie (nasinya sudah habis nak, tinggal mie instan),” kata TS saat menirukan ucapan Nenek itu.

Karena merasa lapar, TS bersama lima orang anggota komunitas langsung memutuskan untuk pesan mie instan. “Nggih mbah, mboten nopo-nopo, pesen gangsal mangkok mie yo mbah (iya mbah, tidak apa-apa pesan lima mangkok mie ya),” kata anggota lain kepada nenek pemilik warung seperti ditirukan TS.

Malam itu, di warung cuma ada camilan berupa gorengan tahu dengan ukuran besar. Namun, kata TS, menurut salah satu rekan yang sudah makan, ternyata tahu itu rasanya agak basi dan berbau.

“Setelah menunggu lima menit, akhirnya mie instan buatan Nenek jadi dan siap dihidangkan. Karena sudah merasa lapar, kami langsung makan mie instan dengan lahap,” cerita TS.

Tiba-tiba saja nenek tua itu kemudian bertanya ke TS. “Nak sampeyan niki menungso ta? (Nak kalian ini manusia ta),” kata nenek itu seperti ditirukan TS.

“Yo nggih mbah, menungso (iya nek, manusia),” jawab salah satu rekan TS.

“Nek njenengan mbah? (Kalau anda mbah),” celetuk TS kepada Nenek itu.

Nenek itu pun sempat terdiam sejenak, kemudian menjawab. “Mbah yo menungso nak (Nenek ya manusia nak),” ujar TS menirukan ucapan nenek itu.

Setelah selesai makan, mereka kemudian sejenak mengobrol dengan nenek itu. Nenek pemilik warung itu juga bercerita, jika dia menjaga warung tidak sendiri. Nenek mengaku jika dia ditemani putrinya yang cantik jelita dan belum menikah. Putrinya itu membantu menjaga warung hanya saat pagi hingga sore hari.

Karena penasaran dengan putri pemilik warung, salah satu anggota komunitas ini, sebut saja Budi, ingin berkenalan dengan putri nenek itu. Apalagi, nenek pemilik warung juga memberi peluang kepada Budi untuk berkenalan dengan anaknya, yang katanya cantik jelita.

“Setelah membayar makanan dan mengobrol santai dengan Nenek, akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing,” kata TS.

Singkat cerita, siang harinya, Budi berencana pergi sendiri ke lokasi warung itu. Budi memang tertarik dan penasaran ingin berkenalan dengan putri pemilik warung yang katanya dibilang cantik dan belum menikah.

Tapi, alangkah kagetnya. Saat tiba di lokasi, warung yang ia cari tidak ada. Budi hanya menemukan sebuah tempat pembuangan sampah kotor dan tidak terpakai.

“Waktu itu juga Budi langsung memberitahu rekan-rekan lainnya. Dan saya juga kaget diberitahu ternyata tadi malam makan di warung gaib,” tandasnya. (BS02)