Kedua Pelaku Peretas Situs KPU Jember Tergabung Dalam Komunitas Cyber

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko (tengah) saat merilis kasus peretasan website KPU Jember /Ist
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko (tengah) saat merilis kasus peretasan website KPU Jember /Ist

BicaraSurabaya.com – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur menangkap dua hacker (peretas) website KPU Jember. Hacker ini diketahui sudah pernah meretas 400 akun baik dalam negeri maupun mancanegara.

Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Gideon Arief Setiawan mengatakan, kedua pelaku berinisial DA dan ZFR ditangkap di lokasi yang berbeda. Pelaku GA ditangkap di Sumatera Selatan. Sementara ZFR ditangkap di Serang, Banten.

Menurut Gideon, terbongkarnya aksi hacker ini setelah adanya pengaduan dari KPU Jember 6 Oktober pukul 20.00 WIB, bahwa website http://kab-jember.kpu.go.id diretas. Website KPU Jember awalnya diretas, kemudian menampilkan gambar tak senonoh menyinggung DPR RI.

“Karena saat ini KPU sedang melaksanakan proses tahapan Pilkada di Jember, maka website ini sangat penting untuk berlangsungnya Pilkada,” kata Gideon, di Mapolda Jatim, Selasa (13/10/2020).

Tim cyber Ditreskrimsus langsung melakukan penelusuran. Kemudian tim cyber mendapatkan titik terang bahwa website KPU Jember diretas oleh seseorang bernama GA bersama ZFR. Mendapat info itu, Polisi langsung melakukan penangkapan terhadap kedua pelaku.

“Satu ditangkap di Sumatera Selatan dan Serang. Tapi hanya GA yang ditahan. Sementara ZFR tidak ditahan karena masih SMP. Tapi proses tetap berlanjut,” katanya.

Gideon menyebut Polda Jatim hingga saat ini melakukan penyidikan dengan Polres Jember. Dalam penyidikan, diketahui motif sementara tidak ada nuansa politik. Motif pelaku murni untuk eksistensi dan ekonomi.

Dalam melancarkan aksinya, kedua pelaku melakukan komunikasi melalui Facebook. Dengan begitu, tidak ada pertemuan tatap muka antar pelaku.

Gideon menyebut, pelaku telah meretas 400 website, baik akun dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu website dalam negeri yang pernah diretas adalah akun milik Pemerintah Sumatera Selatan dan Bali

“Dari hasil peretasan ini pelaku menjual akunnya. Satu akun dijual 20 ribu dalam bentuk pulsa,” ungkap dia.

Kedua pelaku mempelajari cara meretas media sosial setelah bergabung dalam salah satu komunitas cyber. Komunitas ini telah memiliki sekitar 400 member.

Dengan adanya komunitas cyber ini menjadi ruang anak muda untuk pembelajaran soal media sosial. Anggota komunitas saling memotivasi member lain untuk mencoba meretas akun media sosial.

“Jadi anak muda punya Komunitas untuk memotivasi/mencoba ilmu yang didapat,” tuturnya.

Gideon menegaskan, bahwa saat ini ruang cyber menjadi tempat peradaban baru. Maka dari itu, pihaknya meminta agar masyarakat bijak dalam menggunakan cyber dan menjadikan ruang produktif untuk Indonesia lebih baik.

Kini, pelaku terancam pasal 32 ayat (1) dan atau pasal 33 jo pasal 48 ayat (1) Jo pasal 49 UU no 1 tahun 2008 tentang ITE Jo Undang-undang no 19 tahun 2016 tentang perubahan UU no 11 tahun 2008 tentang ITE. (BS02)

SHARE: