Dua Petranesia Juarai Kompetesi Tugas Akhir se-Indonesia

Patricia Marissa (kiri) dan Richard Cahya Nugraha | Dok. Humas UK Petra
Patricia Marissa (kiri) dan Richard Cahya Nugraha | Dok. Humas UK Petra

BicaraSurabaya.com – Dua orang Petranesian (keluarga besar UK Petra) asal prodi Arsitektur berhasil menorehkan prestasi baru-baru ini. Kedua mahasiwa ini adalah Patricia Marissa meraih juara 1 untuk kategori Technical Studies dan Richard Cahya Nugraha meraih juara 1 untuk kategori Cultural and Artistic.

Keduanya berhasil menjadi juara pada Kompetisi Tugas Akhir Mahasiswa Arsitektur Indonesia ke-17. Pengumuman pemenang ini bertepatan dengan wisuda mereka tanggal 26 September 2020 yang lalu tepatnya pukul 17.00 WIB.

Kompetisi yang mengangkat tema ‘Arsitektur Tanpa Studio’ itu berlangsung secara online di ITS. Dengan diikuti oleh 80 peserta yang lolos seleksi administrasi dari 22 universitas di seluruh Indonesia.

Saat mengikuti kompetisi ini, Patricia dan Richard masih berstatus mahasiswa. Mereka mendapatkan uang tunai, thropy dan beberapa hadiah sponsor. Kini keduanya telah lulus dan menjadi keluarga besar UK Petra.

Dalam kompetisi itu, Patricia Marissa membuat TA bertajuk Stadion Sepakbola di Surabaya. Ide tersebut tercetus karena Surabaya akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia U-20 pada tahun 2021.

“Saya mengusulkan konsep stadion berstandar internasional yang memiliki desain stadion yang unik dan fasilitas pendukung untuk menarik wisatawan serta dapat menampung kegiatan olah raga harian atau akhir pekan masyarakat setempat untuk menjaga keberlangsungan penggunaan stadion,” Patricia dalam keterangan tertulis, Jum’at (9/10/2020).

Ide tersebut terinspirasi dari Kota Pahlawan Surabaya, yang berupa senjata tradisional Surabaya (bambu runcing) dan diartikan sebagai tiang-tiang runcing.

Pada konsepnya itu beragam fasilitas juga tersedia. Antara lain, retail dan merchandise store, foodcourt, museum olahraga, hall of fans, bike tour, photo point, sport library, dan ruang permainan interaktif. Ada pula hall yang dilengkapi dengan tempat duduk dan panel fun-fact, arena bermain, olahraga taman, dan pusat kebugaran.

“Sehingga masyarakat dapat secara aktif berpartisipasi dalam penggunaan stadion setiap hari dan mereka dapat meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya berolahraga,” ungkap Patricia.

Sementara itu, Richard Cahya Nugraha membuat karya bertajuk “Contextual Sustainable Monastery and Retreat House”. Pria berkacamata ini merancang fasilitas biara dan rumah retreat di Kabupaten Ngada, NTT.

Uniknya, karya heritage ini memasukkan berbagai unsur. Richard mencoba mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, rohani, keberlanjutan alam dan masyarakat secara komprehensif.

“Karena melalui desain ini saya mengharapkan dapat menjadi support baru untuk kemajuan masyarakat setempat, Kabupaten, hingga provinsi,” ungkap Richard. (BS02)

SHARE: